Rabu, 31 Oktober 2018

Anorexia Nervosa

Definisi

Anoreksia nervosa adalah suatu gangguan pola makan yang tidak sehat yang ditandai dengan memiliki berat badan yang terlampau rendah  untuk usia dan tinggi badan orang tersebut. Orang-orang yang menderita gangguan emosi ini mengalami ketakutan yang teramat sangat terhadap kenaikan berat badan, bahkan saat mereka sebenarnya sudah sangat kurus.
Mereka berusaha untuk menguruskan badannya lagi dengan berbagai cara seperti:
  • melakukan diet ketat.
  • melakukan kegiatan fisik secara berlebihan.
  • mengonsumsi obat pencuci perut.
  • selalu memuntahkan makanannya yang telah dimakan dengan disengaja.
Anoreksia nervosa lebih umum menyerang wanita dibanding pria. Sering kali kondisi ini mulai timbul saat masa praremaja, selama masa remaja, maupun masa awal dewasa. Pola makan menyimpang ini dapat menyebabkan rendahnya berat badan yang sangat ekstrem dan dapat mengancam kehidupan apabila tidak ditangani dengan segera. Selalu berkonsultasi dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Apa saja ciri-ciri dan gejala dari anoreksia nervosa?

Gejala dan ciri anoreksi nervosa yang umum terjadi:
  • Ketakutan yang teramat sangat terhadap penambahan berat badan atau menjadi gemuk, bahkan saat sudah kurus
  • Memuntahkan makanan  secara disengaja
  • Meminum obat-obatan yang menstimulasi buang air kecil dan buang air besar
  • Mengonsumsi berbagai jenis obat diet
  • Tidak makan atau makan dengan jumlah yang sangat sedikit
  • Banyak berolahraga bahkan saat cuaca buruk atau sakit dan lelah (olahraga berlebihan)
  • Menimbang-nimbang ukuran makanan dan menghitung kalori makanan
Anorexia juga dapat menyebabkan efek psikologis yang membuat seseorang tidak berperilaku sebagaimana biasanya. Mereka dapat berbicara banyak mengenai berat badan dan makanan, tidak makan di depan orang banyak, menjadi moody dan sedih, atau bahkan tidak mau bersosialisasi bersama teman-teman. Penderita anoreksia juga dapat mengalami gangguan fisik dan psikologis, seperti:
  • Depresi
  • Tidak menstruasi (amenore)
  • Dehidrasi
  • Osteoporosis
  • Rambut yang tipis dan mudah rontok
  • Irama jantung yang tak beraturan
Selain itu, masih terdapat juga beberapa ciri dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Apabila Anda memiliki keluhan yang sama, harap konsultasikan kepada dokter Anda.

Penyebab

Apa saja yang menyebabkan anoreksia nervosa?

Penyebab anoreksia nervosa yang paling utama sampai saat ini masih belum diketahui. Berbagai faktor dapat termasuk seperti depresi dan berbagai gangguan mental lainnya, dapat menimbulkan seseorang mengalami perilaku makan menyimpang ini. Selain itu, lingkungan dan media sosial juga dapat memengaruhi persepsi seseorang mengenai standar kecantikan yaitu postur tubuh yang sangat kurus.

Faktor-faktor-Risiko

Apa saja yang meningkatkan risiko terjangkit anoreksia nervosa?

Beberapa faktor risiko di bawah ini bisa membuat Anda berpeluang terkena anoreksia nervosa, yakni:
  • Riwayat keluarga. Apabila Anda memiliki ibu atau saudara perempuan yang terkena anoreksia, Anda dapat menjadi sangat rentan terkena anoreksia.
  • Rendahnya rasa percaya diri. Seseorang yang menderita anoreksia bisa jadi tidak menyukai dirinya sendiri. Mereka bisa jadi sangat membenci penampilan mereka, atau merasa tidak memiliki harapan. Mereka sering kali menetapkan target yang sulit untuk dicapai bagi diri mereka demi menjadi atau merasa sempurna seperti yang mereka inginkan.
  • Perubahan kehidupan atau pengalaman yang membuat stress.
  • Kejadian traumatis seperti pemerkosaan, juga pengalaman yang membuat stres seperti memulai pekerjaan baru dapat menyebabkan anoreksia.
  • Pengaruh sosial media. Gambar-gambar di TV, internet, dan media cetak seringkali mengampanyekan tipe tubuh yang kurus terkesan lebih baik. Foto-foto tersebut mengindikasikan bahwa menjadi kurus adalah suatu kesuksesan dan kecantikan.

Obat & Pengobatan

Informasi di bawah bukan merupakan pengganti saran medis dari dokter; selalu periksakan diri Anda kepada dokter profesional.

Perawatan yang dapat dilakukan pada penderita anoreksia nervosa

Tantangan terbesar dalam menangani seseorang dengan anorexia nervosa adalah menyadarkan mereka bahwa mereka memiliki sebuah gangguan. Banyak penderita anoreksia menyangkal bahwa mereka memiliki pola makan yang tidak sehat. Para penderita yang pada akhirnya melakukan perawatan medis hanya mereka yang benar-benar serius. Penanganan bagi penderita anoreksia dapat berupa:
  • Terapi lewat percakapan sering kali dilakukan kepada pasien muda atau seseorang yang baru sebentar menderita anoreksia untuk menyemangati mereka kembali ke dalam pola makan yang sehat.
  • Melakukan terapi khusus yang disebut dengan cognitive behavioural therapy
  • Terapi kelompok
  • Terapi keluarga
  • Obat-obatan seperti antidepresi, antipsikotik, dan penstabil mood dapat membantu beberapa pasien anorexia saat diberikan sebagai bagian dari program perawatan yang komplit. Obat-obatan tersebut dapat membantu menangani depresi maupun perasaan gelisah.

Jenis tes yang biasa dilakukan untuk mendeteksi Anorexia Nervosa

Dokter membuat diagnosis dari sejarah medis pasien (khususnya mengenai berat badan dan diet), pemeriksaan fisik, dan tes laboratorium untuk menjabarkan kondisi-kondisi lain. Tidak ada suatu tes spesifik dibuat untuk mengetahui anoreksia. Penurunan berat badan yang ekstrem tanpa penyakit fisik, khususnya pada remaja wanita, seringkali merupakan suatu tanda yang penting.
Dokter mungkin akan bertanya:
  • Sudah berapa lama Anda mencemaskan berat badan Anda?
  • Apakah Anda berolahraga secara teratur?
  • Apakah Anda menggunakan suatu metode tertentu dalam menurunkan berat badan?
  • Pernahkah Anda muntah saat merasa terlalu kenyang?
  • Pernahkah ada seseorang yang mengatakan bahwa Anda terlalu kurus?
  • Apakah Anda sering berpikir mengenai makanan?
  • Pernahkah Anda menyimpan makanan untuk dimakan nanti?
  • Apakah ada keluarga Anda yang juga mengalami gangguan pola makan?
Apabila terdapat kemungkinan anoreksia, dokter akan meminta Anda melakukan serangkaian tes tambahan, yakni:
  • Albumin
  • Tes kepadatan tulang untuk memeriksa tulang tipis (osteoporosis)
  • CBC
  • Elektrokardiogram (ECG atau EKG)
  • Elektrolit
  • Tes fungsi ginjal
  • Tes fungsi hati
  • Jumlah protein
  • Tes fungsi tiroid
  • Urinalisis

Pengobatan di rumah

Upaya dirumah untuk membantu mengatasi Anorexia Nervosa

Berikut merupakan bentuk-bentuk dari gaya hidup sehat dan pengobatan di rumah yang dapat membantu Anda menghadapi anoreksia nervosa:
  • Kurangi stress
  • Akui bahwa diri Anda mengidap anoreksia
  • Makanlah makanan yang diresepkan oleh dokter atau ahli gizi
  • Ikuti sesi konseling
  • Konsumsi obat-obatan seperti yang diinstruksikan
  • Belilah pakaian yang pas untuk postur tubuh Anda, bukan pakaian yang mengharuskan Anda menurunkan berat badan terlebih dahulu untuk memakainya
  • Cintai diri Anda apa adanya
Sumber: https://hellosehat.com/penyakit/anoreksia-nervosa/

Kleptomania

Kleptomania berasal dari bahasa Yunani, yaitu "klepto" yang berarti mencuri, dan mania yang berarti kegilaan (perasaan takut yang ditekan dan dendam karena ditolak, baik itu nyata atau hanya khayalan, baik yang terjadi sekarang maupun yang telah berlalu). Jadi, kleptomania berarti penyakit jiwa mencuri atau juga diartikan sebagai kegairahan rangsangan seksual yang berasosiasi dengan dorongan mencuri.
Menurut James Drever (1992), kleptomania yaitu gerak hati untuk mencuri, tidak jarang terlihat mencuri barang-barang yang tak diingini oleh individu.
Kleptomania adalah jenis gangguan kontrol impuls, gangguan yang ditandai oleh masalah dengan pengendalian diri secara emosional atau perilaku. Jika Anda memiliki gangguan kontrol impuls, Anda mengalami kesulitan menolak godaan atau dorongan untuk melakukan suatu tindakan yang berlebihan atau berbahaya bagi Anda atau orang lain.
Kleptomania merupakan kegagalan berulang melawan dorongan untuk mencuri barang-barang yang sebenarnya tidak benar-benar dibutuhkan dan biasanya memiliki sedikit nilai. Kleptomania adalah gangguan kesehatan mental yang serius yang dapat menyebabkan rasa emosional untuk Anda dan orang yang Anda cintai jika tidak diobati.
Banyak orang dengan kleptomania hidup dalam rahasia karena malu dan takut untuk mencari perawatan kesehatan mental. Meskipun tidak ada obat untuk kleptomania, pengobatan psikoterapi mungkin dapat membantu mengakhiri siklus kompulsif untuk mencuri.

Penyebab Kleptomania

Penyebab kleptomania belum diketahui. Beberapa teori menunjukkan perubahan di otak dapat menjadi akar dari kleptomania. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk memahami penyebab kleptomania. Namun, kleptomania dapat diakibatkan oleh:
  • Masalah neurotransmiter di otak yang disebut dengan serotonin. Serotonin membantu mengatur mood dan emosi. Kadar serotonin yang rendah seringkali mengakitbatkan tingkah laku yang impulsif.
  • Terkait dengan gangguan adiktif, dan mencuri dapat menyebabkan pelepasan dopamin (neurotransmiter lain). Dopamin mengakibatkan rasa nyaman, dan beberapa orang menginginkan sensasi nyaman ini dengan cara mencuri.
  • Terkait dengan sistem opioid otak. Dorongan atau motivasi juga diatur oleh sistem opioid otak. Ketidakseimbangan sistem ini dapat menyebabkan kesulitan dalam menahan suatu dorongan atau keinginan.

Gejala Kleptomania  

Gejala kleptomania meliputi:
  • Ketidakmampuan melawan keinginan untuk mencuri barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan
  • Merasa adanya dorongan, tekanan, dan kecemasan yang mendorong untuk mencuri
  • Merasa lega dan nyaman setelah mencuri
  • Merasa bersalah, malu, atau takut ketika tertangkap sebagai pencuri
  • Mengulangi siklus kleptomania yang tadi disebutkan di atas
Karakteristik pengidap kleptomania
Orang pengidap kleptomania biasanya menunjukkan fitur atau karakteristik berikut ini:
  • Tidak seperti pengutil tipikal, pengidap kleptomania tidak kompulsif mencuri untuk kepentingan pribadi, yaitu berani atau keluar dari pemberontakan. Mereka mencuri hanya karena dorongan yang begitu kuat sehingga mereka tidak bisa menolaknya
  • Perilaku kleptomania umumnya terjadi secara spontan, biasanya tanpa perencanaan dan tanpa bantuan atau kerjasama dari orang lain
  • Kebanyakan pengidap kleptomania mencuri dari tempat-tempat umum, seperti toko dan supermarket. Beberapa mungkin mencuri dari teman atau kenalan, seperti di sebuah pesta
  • Seringkali, barang yang dicuri tidak memiliki nilai untuk orang dengan kleptomania, dan orang mampu membelinya
  • Barang yang dicuri biasanya disembunyikan, tidak pernah digunakan. Barang juga dapat disumbangkan, diberikan kepada keluarga atau teman-teman, atau bahkan diam-diam kembali ke tempat dari mana barang dicuri
  • Mendesak untuk mencuri bisa datang dan pergi atau mungkin terjadi dengan intensitas yang lebih besar atau lebih kecil selama waktu.
Faktor risiko
Kleptomania merupakan hal yang tidak biasa. Namun karena banyak pengidap kleptomania tidak pernah mencari pengobatan, atau mereka hanya dipenjara setelah pencurian berulang, banyak kasus kleptomania mungkin tidak akan pernah didiagnosis. Kleptomania sering dimulai pada masa remaja atau dewasa muda, tapi dalam kasus yang jarang dimulai di masa dewasa tua.
Faktor risiko kleptomania mungkin termasuk:
  • Riwayat keluarga. Ada riwayat orangtua atau saudara kandung mengidap kleptomania, gangguan obsesif-kompulsif, atau masalah ketergantungan zat atau alkohol dapat meningkatkan risiko kleptomania
  • Sekitar dua-pertiga pengidap kleptomania diketahui adalah perempuan
  • Memiliki penyakit mental lain. Pengidap kleptomania sering memiliki penyakit mental lain, seperti gangguan bipolar, gangguan kecemasan, gangguan makan, gangguan penggunaan zat atau gangguan kepribadian
  • Kepala trauma atau cedera otak. Orang yang pernah mengalami trauma kepala dapat berkembang menjadi kleptomania.

Mengatasi Kleptomania

Jika Anda tidak bisa berhenti mengutil atau mencuri, carilah saran medis. Banyak orang yang mungkin mengidap kleptomania tidak ingin mencari pengobatan karena takut akan ditangkap atau dipenjara. Namun, penyedia kesehatan mental biasanya tidak melaporkan pencurian Anda kepada pihak berwajib.
Beberapa orang mencari bantuan medis karena mereka takut akan tertangkap dan memiliki konsekuensi hukum. Atau mereka sudah ditahan, dan mereka secara hukum mencari pengobatan. Mendapatkan pengobatan dapat membantu Anda mengontrol kleptomania.
Jika orang terdekat mengidap kleptomania
Jika Anda menduga teman dekat atau anggota keluarga mungkin mengidap kleptomania, tingkatkan kepedulian Anda dengan lembut. Perlu diingat bahwa kleptomania adalah kondisi kesehatan mental, bukan merupakan cacat karakter, dan dekati orang tersebut tanpa menyalahkan atau menuduh.
Cara ini mungkin membantu, maka tekankan poin ini ketika menyampaikan kepedulian kepada orang yang dicintai:
  • Anda khawatir karena peduli dengan kesehatan dan keselematan orang yang Anda cintai
  • Anda khawatir tentang risiko pencurian kompulsif, seperti ditangkap oleh pihak berwajib, kehilangan pekerjaan atau merusak hubungan sosial dengan orang lain
  • Anda memahami pengidap kleptomania, dorongan untuk mencuri mungkin terlalu kuat dan untuk melawan bisa dengan menempatkan pikiran untuk mencuri, dan hanya sebatas pikiran.
  • Pengobatan efektif tersedia untuk meminimalkan dorongan untuk mencuri dan membantu orang pengidap kleptomania mengatasi masalahnya tanpa kecanduan dan rasa malu.
Jika Anda memerlukan bantuan untuk berbicara kepada orang yang Anda sayangi, diskusikan dengan dokter. Dokter mungkin merujuk Anda ke penyedia kesehatan mental yang dapat membantu Anda merencanakan cara untuk membantu orang yang kita kasihi tanpa harus membuat mereka defensif atau terancam.
Ketika Anda memutuskan untuk mencari pengobatan untuk gejala kleptomania, Anda akan menjalankan evaluasi fisik dan psikologis. Pemeriksaan fisik dapat menentukan apakah mungkin ada sebab-sebab medis yang memicu gejala Anda.

Diagnosis Kleptomania

Kleptomania didiagnosis berdasarkan tanda-tanda dan gejala. Karena merupakan jenis gangguan kontrol impuls, untuk membantu menentukan diagnosis, dokter akan melakukan hal berikut:
  • Mengajukan pertanyaan tentang impuls atau dorongan dan bagaimana hal tersebut memengaruhi hidup Anda
  • Meninjau daftar situasi yang memicu episode kleptomania Anda
  • Meminta Anda mengisi kuesioner psikologis atau penilaian diri
Banyak ahli menggunakan kriteria dalam Diagnostik dan Statistik Manual of Mental Disorders DSM-5, yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association, untuk mendiagnosa kondisi mental. Panduan ini juga digunakan oleh perusahaan asuransi untuk mengganti suatu pengobatan berasuransi.
Kriteria DSM-5 untuk kleptomania mencakup fitur ini:
  • Anda memiliki ketidakmampuan berulang untuk menolak dorongan mencuri benda-benda yang sebenarnya tidak diperlukan dalam kehidupan Anda dan tidak bernilai moneter
  • Anda merasa tegang segera sebelum melakukan pencurian
  • Anda memiliki perasaan senang, lega atau puas selama tindakan mencuri
  • Pencurian tersebut tidak dilakukan sebagai cara untuk membalas dendam atau untuk mengekspresikan kemarahan dan tidak dilakukan sambil berhalusinasi atau delusi
  • Mencuri itu tidak terkait dengan gangguan perilaku, episode manik dari gangguan bipolar atau gangguan kepribadian antisosial

Mengobati Kleptomania

Meskipun takut, rasa dihina atau malu menjadi sulit untuk mencari pengobatan kleptomania. Kebiasaan buruk ini penting untuk mendapatkan bantuan. Kleptomania sulit untuk diatasi sendiri. Jika Tanpa pengobatan, kleptomania bisa menjadi berkelanjutan dan menjadi kondisi jangka panjang.
Pengobatan kleptomania biasanya melibatkan obat-obatan dan psikoterapi, kadang-kadang bersama dengan kelompok-kelompok swadaya. Namun, tidak ada standar untuk pengobatan kleptomania, dan peneliti masih mencoba untuk memahami apa terapi yang terbaik. Anda mungkin harus mencoba beberapa jenis pengobatan untuk menemukan satu obat yang bekerja dengan baik untuk Anda.
Obat
Terdapat beberapa penelitian ilmiah tentang penggunaan obat psikiatri untuk mengobati kleptomania. Dan tidak ada obat yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serika (FDA) untuk kleptomania. Namun, obat-obatan tertentu dapat membantu, tergantung pada keadaan Anda dan apakah Anda memiliki gangguan mental lainnya, seperti depresi atau gangguan obsesif-kompulsif.
Dokter dapat mempertimbangkan dan meresepkan antidepresan, khususnya selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI). Kecanduan obat yang disebut antagonis opioid dapat mengurangi dorongan dan kesenangan yang terkait dengan mencuri. Obat lain dapat dipertimbangkan juga.
Jika obat diresepkan, tanyakan kepada dokter, penyedia kesehatan mental atau apoteker tentang potensi efek samping atau kemungkinan interaksi dengan obat lain.
Psikoterapi
Suatu bentuk psikoterapi yang disebut terapi perilaku kognitif membantu Anda mengidentifikasi kondisi, keyakinan dan perilaku negatif, untuk digantikan menjadi sutau keyakinan dan perilaku yang positif. Terapi perilaku kognitif dapat mencakup teknik ini untuk membantu Anda mengatasi kleptomania:
  • Sensitisasi tertutup, di mana Anda membayangkan diri Anda mencuri dan kemudian menghadapi konsekuensi negatif, seperti tertangkap basah ketika sedang mencuri
  • Terapi aversi atau keengganan, di mana teknik ini agak menyakitkan, seperti menahan napas ketika ada dorongan untuk mencuri sampai Anda menjadi tidak nyaman
  • Desensitisasi sistematis, di mana Anda berlatih teknik relaksasi dan gambar diri Anda dalam mengendalikan dorongan untuk mencuri.
Menghindari kekambuhan
Kambuh dari kleptomania bukanlah hal yang luar biasa. Untuk membantu menghindari kambuh, pastikan untuk tetap pada rencana pengobatan Anda. Jika Anda merasa mendesak untuk mencuri, hubungi penyedia kesehatan mental atau hubungi seseorang atau teman yang dapat dipercaya dalam mengutarakan keinginan Anda ini.
Jika tidak diobati, kleptomania bisa mengakibatkan masalah emosional, keluarga, hukum, kerja dan masalah keuangan. Misalnya, Anda tahu mencuri itu salah tapi Anda merasa tidak berdaya untuk menolak dorongan, sehingga Anda mungkin didera rasa bersalah, rasa malu, membenci diri sendiri dan merasa hina. Anda juga sebaliknya dapat mengalami pergumulan moral, bingung dan marah oleh pencurian kompulsif yang dilakukan.

Komplikasi Kleptomania

Contoh komplikasi kleptomania:
  • Kompulsif atau selalu berkeinginan judi atau belanja
  • Ditangkap karena mencuri
  • Hukuman penjara
  • ketergantungan alkohol dan penyalahgunaan zat
  • Gangguan makan
  • Depresi
  • Kegelisahan
Sumber: 
Krisidianti, Krisidianti (2015) KLEPTOMANIA DALAM KAJIAN FIQH JINAYAH DAN HUKUM PIDANA DI INDONESIA. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
https://doktersehat.com/kleptomania/

Depresi

Apa itu depresi?

Depresi adalah kondisi yang disebut juga dengan depresi berat atau depresi klinis. Depresi juga bisa digambarkan sebagai suatu kelainan mood yang menyebabkan perasaan sedih dan hilang minat yang menetap.
Depresi bisa memengaruhi perasaan Anda, cara berpikir dan berperilaku, serta dapat membuat Anda memiliki berbagai masalah emosi dan fisik. Jika rasa sedih berlangsung dalam beberapa hari atau minggu, mengganggu pekerjaan atau kegiatan lain dengan keluarga atau teman, atau berpikir untuk bunuh diri, kemungkinan ini adalah depresi. Diskusikan dengan dokter Anda jika Anda merasakan gejala depresi.

Seberapa umumkah depresi?

Depresi adalah kondisi yang sering terjadi di masyarakat. Menurut penelitian, depresi terjadi pada 80% orang pada beberapa waktu dalam hidupnya dan dapat terjadi pada usia berapapun. Depresi lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan laki-laki.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala depresi?

Depresi adalah kondisi yang dapat menimbulkan bermacam macam gejala pada setiap orang. Contohnya, saat menderita depresi beberapa orang akan tidur lebih banyak, sementara gejala lainnya bisa menimbulkan gejala sulit tidur dan tidak nafsu makan. Meski begitu, terdapat beberapa gejala yang umum terjadi, seperti:
  • Sulit konsentrasi
  • Merasa sedih atau kosong
  • Kehilangan minat akan hal-hal yang menggembirakan
  • Merasa masa depannya tidak akan baik atau putus asa
  • Merasa tidak berenergi
  • Merasa gelisah atau sulit tidur
  • Hilang minat pada seks
  • Depresi berat dapat menyebabkan pikiran bunuh diri dan pembunuhan.
Pada orang dengan depresi, gejala ini berlangsung lama hingga 2 minggu atau lebih. Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda merasakan beberapa tanda depresi, buatlah janji dengan dokter Anda sesegera yang Anda bisa. Apabila Anda enggan untuk melakukan terapi, bicarakan dengan teman atau pasangan Anda, pelayan kesehatan, pemuka agama, atau orang lain yang dapat Anda percaya. Tidak perlu malu untuk meminta pertolongan dokter atau pihak lain. Semakin dini Anda ke dokter, semakin baik.
Jika Anda berpikir Anda akan melukai diri Anda atau mencoba bunuh diri, hubungi nomor darurat segera.
Selain itu, pertimbangkan pilihan berikut saat Anda berpikir akan bunuh diri:
  • Meminta bantuan dokter Anda atau pelayan kesehatan yang lain
  • Membicarakan dengan teman terdekat atau pasangan Anda
  • Hubungi pemuka agama atau orang lain dalam komunitas iman Anda
Jika pasangan atau teman Anda dalam bahaya percobaan bunuh diri:
  • Pastikan orang lain tetap bersamanya
  • Hubungi nomor darurat lokal sesegera mungkin
  • Atau, jika memungkinkan, bawalah orang tersebut ke instalasi gawat darurat di rumah sakit terdekat

Penyebab

Apa penyebab depresi?

Depresi adalah kondisi yang bisa disebabkan karena beberapa faktor, antara lain:
Genetik – orang dengan riwayat keluarga depresi lebih cenderung depresi dibandingkan dengan yang tidak memiliki riwayat keluarga depresi.
Kimia otak – orang dengan depresi memiliki kimia otak yang berbeda dari yang tidak depresi.
Stres – kehilangan orang yang dicintai, hubungan yang bermasalah, atau situasi yang dapat membuat stres, dapat memicu terjadinya depresi.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk depresi?

Depresi adalah kondisi yang punya banyak faktor risiko yaitu:
Depresi lebih sering muncul pada usia remaja, sekitar usia 20an atau 30an, namun depresi tetap dapat terjadi di semua usia. Wanita lebih banyak didiagnosis depresi dibandingkan dengan laki-laki, tapi mungkin juga ini karena biasanya penderita yang wanita lebih sering mencari bantuan dan pengobatan.
Faktor yang meningkatkan risiko menderita depresi atau memicu depresi yaitu:
  • Memiliki riwayat keluarga kelainan kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan, gangguan makan, atau gangguan stres pascatrauma (PTSD)
  • Penyalahgunaan alhohol atau obat terlarang
  • Beberapa ciri kepribadian, seperti rendah diri, ketergantungan, kritis dengan diri sendiri atau pesimistik
  • Penyakit kronis atau serius, seperti kanker, stroke, nyeri kronis, atau penyakit jantung
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu seperti beberapa obat tekanan darah tinggi atau obat tidur (diskusikan dengan dokter Anda sebelum menghentikan obat)
  • Kejadian traumatik atau yang dapat membuat stress, seperti kekerasan seksual, kematian, atau kehilangan orang yang dicintai atau masalah keuangan
  • Memiliki hubungan darah dengan penderita depresi, gangguan bipolar, alkoholisme, atau percobaan bunuh diri

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk depresi?

Terapi depresi biasanya menggunakan obat-obatan, psikoterapi, dan terapi elektrokonvulsif. Dokter akan meninjau kondisi Anda dan akan mempertimbangkan terapi apa yang cocok untuk Anda. Tidak perlu malu untuk mendiskusikan kekhawatiran Anda akan terapi yang dokter tawarkan.
Obat-obatan  yang digunakan yaitu antidepresan. Beberapa obat yang sering digunakan yaitu escitalopram, paroxetine, sertraline, fluoxetine, dan citalopram. Obat-obat tersebut termasuk obat golongan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs). Selain itu juga ada obat venlafaxine, duloxetine dan bupropion. Obat ini dapat menyebabkan beberapa efek samping, seperti:
  • Peningkatan berat badan
  • Masalah seksual
  • Mual
Antidepresan tidak menyebabkan kecanduan. Ketika Anda sudah tidak perlu antidepresan dan berhenti menggunakan antidepresan, tubuh Anda tidak akan mengalami ketergantungan. Namun demikian, penggunaan dan penghentian antidepresan harus dalam pengawasan dokter. Penghentian yang mendadak dapat menyebabkan perburukan gejala depresi. Selalu konsultasikan dengan dokter mengenai penggunaan antidepresan.
Psikoterapi juga dapat membantu mengobati depresi. Psikoterapi dilakukan dengan mengajari cara baru dalam berpikir dan berperilaku, dan mengubah kebiasaan yang berperan dalam depresi. Terapi ini dapat membantu Anda mengerti serta melewati hubungan yang penuh masalah atau situasi yang menyebabkan depresi atau bahkan memperburuknya.
Terapi elektrokonvulsif. Untuk depresi berat yang sulit diterapi atau tidak berespon pada obat-obatan atau psikoterapi, kadang-kadang dilakukan terapi elektrokonvulsif (ECT) yang dilakukan di bawah pengaruh obat bius. Walaupun dahulu ECT memiliki reputasi yang buruk, saat ini ECT sudah mengalami peningkatan dan dapat menyembuhkan orang saat terapi lain tidak bekerja. ECT dapat menyebabkan efek samping seperti bingung dan kehilangan memori. Walaupun efek samping ini hanya sementara, terkadang efek tersebut juga bisa menempel terus.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk depresi?

Pada umumnya, dokter akan mendiagnosis dari gejala Anda dan riwayat kesehatan Anda. Selain itu, dokter juga dapat melakukan beberapa pemeriksaan seperti tes darah dan tes psikologi, untuk menyingkirkan kondisi lain yang dapat menyebabkan gejala yang Anda alami, mengonfirmasi diagnosis dan memeriksa komplikasi yang berhubungan.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi depresi?

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi depresi:
  • Jangan menyendiri
  • Buat hidup Anda lebih sederhana
  • Olahraga teratur
  • Konsumsi makanan sehat
  • Belajarlah untuk santai dan menangani stress Anda
  • Jangan membuat keputusan saat Anda sedang down
  • Hubungi dokter Anda jika gejala Anda memburuk
  • Hubungi dokter Anda jika Anda mengalami efek samping obat
  • Hubungi dokter Anda segera jika Anda berpikir untuk bunuh diri atau membunuh atau menyakiti orang lain
  • Hubungi dokter Anda segera jika Anda merasakan gejala psikosis, seperti mendengar suara, melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, atau merasakan ketakutan berlebih
Sumber: https://hellosehat.com/penyakit/depresi/

Phobia

Fobia adalah rasa takut berlebihan terhadap sesuatu. Ketakutan tersebut dapat timbul saat menghadapi situasi, berada di suatu tempat, atau ketika melihat hewan tertentu. Dalam kondisi fobia yang parah, penderitanya akan berusaha menghindar dari objek yang dapat memicu ketakutan.
Fobia sebenarnya termasuk ke dalam penyakit gangguan kecemasan. Kondisi ini dapat membuat penderitanya depresi, panik, serta membatasi kegiatan.
Fobia bisa bersifat spesifik atau kompleks. Contoh-contoh fobia spesifik, di antaranya adalah takut terhadap kedalaman air, ketinggian, hewan, dokter, jarum suntik, darah, atau takut tertular penyakit seksual. Sedangkan contoh fobia kompleks, di antaranya adalah takut terhadap situasi sosial, takut berbicara di depan umum, atau takut berada di ruang terbuka.
Kebanyakan kasus fobia spesifik dialami oleh penderitanya sejak masa kanak-kanak atau remaja. Sedangkan fobia kompleks umumnya mulai berkembang ketika penderitanya memasuki kehidupan dewasa.

Gejala Fobia

Tanda fobia pada diri seseorang dapat mudah dikenali dari reaksi takut berlebihan yang diperlihatkannya ketika melihat objek atau menghadapi situasi tertentu. Selain rasa takut yang berlebihan, fobia juga bisa disertai dengan serangan panik yang ditandai dengan:
  • Disorientasi atau bingung.
  • Pusing dan sakit kepala.
  • Mual.
  • Dada terasa sesak dan nyeri.
  • Sesak napas.
  • Detak jantung meningkat.
  • Tubuh gemetar dan berkeringat.
  • Telinga berdenging.
  • Sensasi ingin selalu buang air kecil.
  • Mulut terasa kering.
  • Menangis terus-menerus dan takut ditinggal sendirian (terutama pada anak-anak).

Penyebab Fobia

Hingga kini penyebab fobia belum diketahui secara jelas. Meski begitu, ada beberapa faktor yang diduga kuat dapat memicu  kondisi ini, di antaranya:
  • Peristiwa traumatis atau pengalaman buruk. Fobia sering dikaitkan dengan  peristiwa traumatis yang dialami sebelumnya atau pengalaman buruk pada masa kecil. Misalnya, seseorang yang pernah terkurung saat masih kecil cenderung takut terhadp ruang tertutup ketik baeranjak dewasa.
  • Perubahan fungsi otakBeberapa fobia spesifik dapat disebabkan oleh perubahan yang terjadi pada fungsi otak.
  • Genetik dan lingkungan. Fobia dapat terjadi karena pengaruh dari lingkungan atau keluarga. Contohnya, seseorang cenderung akan mengalami fobia jika dibesarkan oleh orang tua yang sering mengalami kecemasan.

Diagnosis dan Pengobatan Fobia

Fobia biasanya dapat mudah terdiagnosis oleh dokter dari gejala-gejala yang mengarah pada kondisi tersebut, dengan diperkuat oleh riwayat penyakit (termasuk kejiwaan), riwayat penggunaan obat, dan riwayat kehidupan sosial pasien.
Penanganan terhadap fobia dapat dilakukan melalui terapi psikologi, salah satunya yang efektif adalah terapi perilaku kognitif. Terapi ini membantu pasien mengubah cara pandang dan cara bersikap terhadap suatu masalah. Dalam kasus fobia, ahli terapi akan membantu pasien mengatasi rasa takut melalui teknik pemaparan atau desentisasi. Dengan teknik pemaparan terhadap benda atau suasana yang ditakuti, rasa takut diharapkan dapat berkurang secara bertahap sehingga pada akhirnya pasien dapat mengendalikn fobia yang dialami. Contohnya, adalah pada pasien yang mengalami fobia terhadap ular. Awalnya, pasien akan diminta untuk membaca tulisan tentang ular, lalu diperlihatkan gambar hewan  tersebut. Tahapan berikutnya adalah dengan mengunjungi kandang ular, yang dilanjutkan dengan memegang reptil tersebut secara langsung.
Di samping teknik tersebut, ahli terapi juga akan mengajarkan pasien teknik untuk mengendalikan diri. Misalnya, melalui teknik relaksasi untuk membantu mengatur ketenangan dan pernapasan, atau teknik visualisasi untuk membayangkan keberhasilan mengatasi situasi.
Hasil yang lebih efektif akan terlihat saat beberapa teknik terapi dipadukan dengan ditunjang oleh penerapan gaya hidup sehat. Misalnya beristirahat secara cukup, mengonsumsi makanan sehat secara teratur, dan rajin berolah raga.
Selain melalui terapi, gejala fobia juga dapat diredakan dengan obat-obatan. Kendati demikian, obat biasanya hanya diberikan untuk jangka waktu pendek. Contoh obat yang kemungkinan  diresepkan dokter dalam kasus fobia adalah:
  • Penghambat pelepasan serotonin (SSRIs). Obat ini bekerja dengan cara memengaruhi salah satu hormon transmiter di dalam otak, yaitu hormon serotonin, berperan dalam menciptakan dan mengatur suasana hati.
  • Penghambat beta (beta blockers). Obat yang biasanya digunakan untuk mengatasi hipertensi dan gangguan jantung  ini  diberikan untuk menghambat reaksi-reaksi yang muncul dari stimulasi adrenalin akibat  rasa cemas, seperti suara dan tubuh gemetar, jantung berdebar, atau tekanan darah meningkat.
  • Benzodiazepine. Obat ini diberikan untuk mengatasi kecemasan dalam tingkat yang parah. Biasanya pemberian benzodiazepine akan dikurangi secara bertahap seiring membaiknya kondisi guna menghindari ketergantungan.
Sumber: https://www.alodokter.com/fobia.html

Skizofrenia

Definisi
Skizofrenia merupakan penyakit mental yang serius. Penyakit ini disebabkan oleh gangguan konsentrasi neurotransmiter otak, perubahan reseptor sel-sel otak, dan kelainan otak struktural, dan bukan karena alasan psikologis. Pasien akan memiliki pemikiran, perasaan, emosi, ucapan, dan perilaku yang tidak normal, yang memengaruhi kehidupan, pekerjaan, kegiatan sosial, dan kemampuan untuk mengurus diri mereka sehari-hari. Beberapa pasien bersifat rentan dan mencoba atau melakukan tindakan bunuh diri. Orang bisa menderita skizofrenia di berbagai tahapan usia, tetapi gejala penyakit ini biasanya muncul dalam rentang usia 20 hingga 30 tahun. Tingkat kekambuhannya sangat tinggi jika tidak dilakukan tindakan pengobatan dan perawatan yang tepat.

Orang-orang berikut memiliki faktor risiko yang lebih tinggi terhadap penyakit ini:
1. Mereka yang memiliki riwayat turunan skizofrenia dalam keluarga 
2. Mereka yang terjangkit virus saat berada dalam kandungan 
3. Penyalahguna/Pemakai narkoba

Skizofrenia adalah jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berpikir, perasaan dan perbuatan. Bleuler (dalam Maramis, 2009)membagi gejala – gejala skizofrenia menjadi 2 kelompok :
1) Gejala – gejala primer: a) Gangguan proses berpikir, b) Gangguan emosi, c) Gangguan kemauan, d) Autisme 
2) Gejala – gejala sekunder a) waham, b) halusinasi, c) gejala katatonik atau gangguan psikomotor yang lain

Apa tindakan pengobatan terhadap Skizofrenia? 
Dokter mungkin menyarankan pengobatan berikut ini kepada pasien: 
(1) Obat 
Obat bisa mengurangi atau menghilangkan gejala positif dari pasien secara efektif, misalnya delusi, halusinasi, dan pikiran yang tidak teratur. Obat juga bisa mengendalikan kecemasan dan membantu pasien untuk kembali ke kehidupan nyata. Namun ada efek samping dari obat yang dikonsumsi, misalnya kekakuan otot, gerakan yang lambat, tangan gemetar, mulut kering, sembelit, kelelahan, detak jantung yang cepat, dan peningkatan berat badan. Dokter biasanya meresepkan dua jenis obat antipsikotik (obat untuk penyakit mental), yang merupakan antipsikotik tipikal (misalnya Haloperidol, Thioridazine, dan Fluphenazine) dan antipsikotik atipikal (misalnya Clozapine, Risperidone, dan Olanzapine). Dokter akan meresepkan berbagai jenis obat yang berbeda, tergantung pada kondisi pasien, status pengobatan, dan reaksi pasien terhadap obat. Kedua jenis obat bisa memberikan efek samping yang berbeda.
(2) Pengobatan ajuvan Rehabilitasi bisa membantu dan melatih pasien untuk menghadapi dan mengelola kehidupan mereka sehari-hari. Tergantung pada kondisi tiap individu, para ahli medis profesional akan menetapkan program pengobatan yang sesuai bagi diri pasien, misalnya pelatihan perawatan diri (termasuk kebersihan diri, memasak, keselamatan rumah tangga, adaptasi terhadap masyarakat, dan penggunaan uang), pelatihan kemampuan kerja, manajemen stres, dan keterampilan interpersonal dengan anggota keluarga lainnya. Dukungan keluarga juga sangat penting bagi pasien. Jika keluarganya menghadapi pasien skizofrenia dengan cara dan sikap yang benar, mendukung pasien dengan mengikuti program pengobatan dengan benar, dan mengawasi perubahan kondisi dan gejalanya, maka pasien akan mendapatkan perawatan yang lebih baik. Namun, anggota keluarganya juga harus memperhatikan kesehatan fisik dan mental mereka sendiri, belajar bagaimana cara untuk bersantai, dan mencari bantuan jika diperlukan saat merawat pasien. Anggota keluarga harus menahan diri untuk tidak mengungkapkan komentar secara kritis, membuat sikap bermusuhan, dan menumbuhkan perasaan ikut campur secara berlebihan kepada diri pasien. Menurut penelitian yang dilakukan, sikap-sikap yang tidak diinginkan ini (emosi yang dikeluarkan secara negatif) telah terbukti meningkatkan tingkat kekambuhan penyakit skizofrenia. Lingkungan sekitar akan memengaruhi kondisi perawatan diri pasien. Biasanya tempat-tempat yang dirasakan paling nyaman oleh pasien akan dipilih, misalnya perawatan di rumah. Jika ada kebutuhan khusus, pasien mungkin perlu dirawat di rumah sakit. 

Bagaimana cara untuk merawat pasien penderita Skizofrenia
Skizofrenia memiliki tingkat kekambuhan yang sangat tinggi, pasien harus berkonsultasi kepada dokter secara berkala dan minum obat dengan dosis dan interval waktu seperti yang ditetapkan oleh dokter. Bagi sebagian besar pasien, pengobatan jangka panjang bisa mengurangi kemungkinan kambuh secara signifikan dan menjaga diri pasien dalam keadaan rehabilitasi. Selain itu, pasien harus menjalani pelatihan rehabilitasi, kembali ke masyarakat secara bertahap untuk pemulihan yang lebih cepat. Anggota keluarga wajib mendukung dan membantu pasien untuk mengikuti program pengobatan serta mengikuti kegiatan sosial, demi mendapatkan kehidupan sosial yang lebih baik. Selain itu, anggota keluarga harus mengekspresikan diri dan berkomunikasi dengan pasien dengan cara yang lebih positif dan bersifat langsung, memperhatikan peningkatan kesehatan pasien, dan memberikan pujian dan dorongan untuk meningkatkan kepercayaan diri pasien. 

Sumber: 
-https://www21.ha.org.hk/smartpatient/EM/MediaLibraries/EM/EMMedia/Schizophrenia-Indonesian.pdf?ext=.pdf
-http://digilib.uinsby.ac.id/11051/5/bab2.pdf

Anxiety Disorder (Kecemasan)

KECEMASAN (ANXIETY) 

Istilah kecemasan dalam Bahasa Inggris yaitu anxiety yang berasal dari Bahasa Latin angustus yang memiliki arti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik (Trismiati, dalam Yuke Wahyu Widosari, 2010: 16). Selanjutnya Steven Schwartz, S (2000: 139) mengemukakan “anxiety is a negative emotional state marked by foreboding and somatic signs of tension, such as racing heartt, sweating, and often, difficulty breathing, (anxiety comes from the Latin word anxius, which means constriction or strangulation). Anxiety is similar to fear but with a less specific focus. Whereas fear is usually a response to some immediate threat, anxiety is characterized by apprehension about unpredictable dangers that lie in the future”. Steven Schwartz, S (2000: 139) mengemukakan kecemasan berasal dari kata Latin anxius, yang berarti penyempitan atau pencekikan. 
Kecemasan mirip dengan rasa takut tapi dengan fokus kurang spesifik, sedangkan ketakutan biasanya respon terhadap beberapa ancaman langsung, sedangkan kecemasan ditandai oleh kekhawatiran tentang bahaya tidak terduga yang terletak di masa depan. Kecemasan merupakan keadaan emosional negatif yang ditandai dengan adanya firasat dan somatik ketegangan, seperti hati berdetak kencang, berkeringat, kesulitan bernapas. 
Syamsu Yusuf (2009: 43) mengemukakan anxiety (cemas) merupakan ketidakberdayaan neurotik, rasa tidak aman, tidak matang, dan kekurangmampuan dalam menghadapi tuntutan realitas (lingkungan), kesulitan dan tekanan kehidupan sehari-hari. Dikuatkan oleh Kartini Kartono (1989: 120) bahwa cemas adalah bentuk ketidakberanian ditambah kerisauan terhadap hal-hal yang tidak jelas. Senada dengan itu, Sarlito Wirawan Sarwono (2012: 251) menjelaskan kecemasan merupakan takut yang tidak jelas objeknya dan tidak jelas pula alasannya. 
Definisi yang paling menekankan mengenai kecemasan dipaparkan juga oleh Jeffrey S. Nevid, dkk (2005: 163) “kecemasan adalah suatu keadaan emosional yang mempunyai ciri keterangsangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak menyenangkan, dan perasaan aprehensif bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi”. Senada dengan pendapat sebelumnya, Gail W. Stuart (2006: 144) memaparkan “ansietas/ kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya”. 
Dari berbagai pengertian kecemasana (anxiety) yang telah dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa kecemasan adalah kondisi emosi dengan timbulnya rasa tidak nyaman pada diri seseorang, dan merupakan pengalaman yang samar-samar disertai dengan perasaan yang tidak berdaya serta tidak menentu yang disebabkan oleh suatu hal yang belum jelas. 

UPAYA UNTUK MENGURANGI KECEMASAN (ANXIETY) 

Cara yang terbaik untuk menghilangkan kecemasan ialah dengan jalan menghilangkan sebeb-sebabnya. Menurut Zakiah Daradjat (1988: 29) adapun cara-cara yang dapat dilakukan, antara lain:
1. Pembelaan Usaha yang dilakukan untuk mencari alasan-alasan yang masuk akal bagi tindakan yang sesungguhnya tidak masuk akal, dinamakan pembelaan. Pembelaan ini tidak dimaksudkan agar tindakan yang tidak masuk akal itu dijadikan masuk akal, akan tetapi membelanya, sehingga terlihat masuk akal. Pembelaan ini tidak dimaksudkan untuk membujuk atau membohongi orang lain, akan tetapi membujuk dirinya sendiri, supaya tindakan yang tidak bisa diterima itu masih tetap dalam batas-batas yang diingini oleh dirinya. 
2. Proyeksi Proyeksi adalah menimpakan sesuatu yang terasa dalam dirinya kepada orang lain, terutama tindakan, fikiran atau dorongan-dorongan yang tidak masuk akal sehingga dapat diterima dan kelihatannya masuk akal. 
3. Identifikasi Identifikasi adalah kebalikan dari proyeksi, dimana orang turut merasakan sebagian dari tindakan atau sukses yang dicapai oleh orang lain. Apabila ia melihat orang berhasil dalam usahanya ia gembira seolah-olah ia yang sukses dan apabila ia melihat orang kecewa ia juga ikut merasa sedih. 
4. Hilang hubungan (disasosiasi) Seharusnya perbuatan, fikiran dan perasaan orang berhubungan satu sama lain. Apabila orang merasa bahwa ada seseorang yang dengan sengaja menyinggung perasaannya, maka ia akan marah dan menghadapinya dengan balasan yang sama. Dalam hal ini perasaan, fikiran dan tindakannya adalah saling berhubungan dengan harmonis. Akan tetapi keharmonisan mungkin hilang akibat pengalaman- pengalaman pahit yang dilalui waktu kecil. 
5. Represi Represi adalah tekanan untuk melupakan hal-hal, dan keinginan-keinginan yang tidak disetujui oleh hati nuraninya. Semacam usaha untuk memelihara diri supaya jangan terasa dorongan-dorongan yang tidak sesuai dengan hatinya. Proses itu terjadi secara tidak disadari. 
6. Subsitusi Substitusi adalah cara pembelaan diri yang paling baik diantara cara-cara yang tidak disadari dalam menghadapi kesukaran. Dalam substitusi orang melakukan sesuatu, karena tujuan-tujuan yang baik, yang berbeda sama sekali dari tujuan asli yang mudah dapat diterima, dan berusaha mencapai sukses dalam hal itu.

Sumber: Ifdil & Annisa, D. F. (2016). Konsep Kecemasan (Anxiety) pada Lanjut Usia (Lansia). Jurnal Konselor. 2(5). 93-99.

Bipolar


Apa itu gangguan bipolar?

Bipolar disorder atau yang juga dikenal sebagai gangguan bipolar adalah suatu kondisi mental yang menyebabkan terjadinya perubahan mood yang ekstrem. Hal ini membuat orang yang memiliki gangguan bipolar dapat berubah perasaan secara tiba-tiba dari sangat bahagia (mania) menjadi sangat sedih (depresi). Sering kali, di antara perubahan keduanya, pasien tetap mengalami kondisi mood yang normal.
Saat pasien merasa sedih, ia akan merasa tertekan, kehilangan harapan, dan bahkan dapat kehilangan keinginan untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Tetapi saat merasa senang, pasien akan merasa sangat bersemangat dan penuh gairah. Perubahan mood tersebut dapat terjadi beberapa kali dalam setahun, atau bahkan seminggu dalam kasus yang lebih parah. Kondisi jiwa ini dapat menyebabkan rusaknya hubungan pribadi, rendahnya motivasi dan produktivitas di tempat kerja, dan yang lebih buruk lagi dapat menyebabkan perasaan ingin melakukan bunuh diri. Oleh karena itu, orang-orang dengan bipolar disorder sangat disarankan untuk menghubungi bantuan medis saat mengalami perubahan mood yang signifikan.

Seberapa umumkah gangguan bipolar?

Bipolar disorder sering kali muncul pada masa akhir remaja atau awal masa dewasa. Setidaknya, setengah dari kasus munculnya gangguan bipolar adalah mereka yang berusia di bawah 25 tahun. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan kondisi ini juga dapat ditemukan pada anak dan orang dewasa. Selalu berkonsultasi dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala gangguan bipolar?

Saat seseorang terkena kondisi gangguan bipolar, ia akan mengalami perasaan emosional yang hebat dan terjadi pada suatu periode tertentu atau dikenal dengan “episode mood”. Setiap episode mood menunjukkan perubahan drastis dari mood dan perilaku normal orang tersebut. Suatu episode di mana ia terlihat terlalu bahagia dan bersemangat disebut episode manic sedangkan episode depresif menunjukkan suatu bentuk kesedihan yang ekstrem dan kehilangan kemauan. Kadang, sebuah episode mood juga menunjukkan kedua gejala mania dan depresi.
Episode tersebut dinamakan kondisi campuran. Penderita juga akan menjadi sangat mudah tersinggung dan marah-marah dalam sebuah episode mood. Perubahan mood ini juga biasanya disertai perubahan ekstrem yang menyangkut energi, aktivitas, pola tidur, dan perilaku sehari-hari.
Selama episode manic, beberapa ciri dan gejala yang dapat muncul dari gangguan bipolar:
  • Merasa terlalu bahagia dan bersemangat.
  • Sangat sensitif dan mudah tersinggung.
  • Banyak makan.
  • Kurang tidur.
  • Bersikap gegabah dan melakukan kegiatan-kegiatan yang berisiko.
  • Berbicara dengan sangat cepat dan mengubah topik pembicaraan dari satu topik ke yang lainnya.
  • Mengalami penurunan kemampuan untuk melakukan penilaian atau pembuatan suatu keputusan.
  • Anda bisa juga dapat melihat hal-hal aneh dan mendengar suara-suara misterius.
Sedangkan, dalam episode depresif, beberapa tanda dan gejala gangguan bipolar adalah:
  • Merasa sangat bersedih dan kehilangan harapan pada jangka waktu yang panjang.
  • Kehilangan ketertarikan dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
  • Makan lebih sedikit.
  • Merasa ngantuk dan malas.
  • Merasa terlalu sadar diri dan minder.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Memiliki pemikiran untuk bunuh diri.
Episode-episode di atas dapat terjadi beberapa kali setahun atau bahkan setiap minggu. Harap hubungi dokter apabila Anda dan orang yang Anda sayangi menunjukkan gejala yang telah disebutkan di atas.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Beberapa hal yang harus Anda periksakan ke dokter terkait gangguan bipolar adalah:
  • Memunculkan gejala periode mood yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang.
  • Memiliki pemikiran untuk melakukan bunuh diri.
  • Merasa agresif dan konfrontasional.
  • Kesulitan tidur dalam beberapa hari.

Penyebab

Apa penyebab gangguan bipolar?

Sampai tulisan ini dimuat, masih belum teridentifikasi secara jelas apa penyebab spesifik dari kondisi jiwa bipolar disorder, tetapi ada beberapa faktor yang telah diketahui dapat menimbulkan gejala bipolar disorder. Faktor-faktor yang menjadi penyebab gangguan bipolar adalah:
  • Kondisi otak. Otak dapat melewati berbagai perubahan fisik yang memengaruhi tingkat bahan kimia otak (neurotransmitter) yang ada di dalamnya. Transmiter tersebut merupakan zat-zat yang memengaruhi mood.
  • Turunan genetik. Orangtua Anda atau angota keluarga lain dapat memiliki kemungkinan memiliki bibit bipolar disorder yang diwariskan kepada anda.
  • Pengaruh lingkungan sosial. Para peneliti telah menemukan bahwa mungkin terdapat beberapa faktor sosial yang dapat menyebabkan timbulnya bipolar disorder. Faktor-faktor tersebut dapat berupa perasaan stres akan suatu kejadian trauma di masa kecil, rendahnya kepercayaan diri, atau mengalami suatu kehilangan yang tragis.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk gangguan bipolar?

Beberapa faktor berisiko di bawah ini dapat memengaruhi kemungkinan Anda terkena bipolar disorder adalah:
  • Periode stress yang tinggi.
  • Penyalahgunaan alkohol maupaun obat-obatan terlarang.
  • Memiliki anggota keluarga penderita bipolar disorder atau gangguan kondisi mental lain.
  • Mengalami suatu peristiwa kehilangan yang terjadi secara tiba-tiba, seperti kematian orang yang disayang.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk gangguan bipolar?

Perawatan bagi penderita bipolar disorder tidak dapat menyembuhkan penderita namun dapat menstabilkan perubahan mood Anda. Perawatan yang cocok bagi Anda akan ditentukan oleh psikiater (seorang dokter yang khusus menangani gangguan kondisi mental). Tergantung kondisi Anda, beberapa perawatan yang akan diberikan untuk gangguan bipolar adalah:
1. Terapi obat
Dokter Anda dapat menganjurkan resep untuk menstabilkan mood anda. Obat tersebut dapat membantu mengurangi gejala yang Anda alami. Anda mungkin diharuskan untuk mengonsumsi obat yang diresepkan dalam jangka waktu yang lama untuk mencegah suatu episode depresi yang dapat menyebabkan bunuh diri. Obat-obatan yang ada biasanya tediri dari antidepresan, penstabil mood, antipsikotik, dan obat anti stress.
2. Konseling
Anda mungkin akan perlu melakukan konseling untuk membicarakan kondisi Anda dan bagaimana cara melewati episode emosi yang Anda alami. Carilah suatu komunitas yang dapat membantu Anda dengan gangguan ini.
3. Perawatan penyalahgunaan zat tertentu
Apabila Anda menderita suatu ketergantungan pada zat tertentu, sangat penting untuk menanggulangi ketergantungan tersebut, karena kondisi tersebut akan menyulitkan Anda dalam meringankan kondisi yang Anda alami.
4. Perawatan rumah sakit
Dalam kasus yang lebih parah, Anda akan diharuskan untuk dirawat di rumah sakit untuk pengawasan berkala. Perawatan tersebut khususnya terjadi apabila Anda mengalami tanda-tandan ingin melakukan bunuh diri. Pada level ini, Anda bisa saja melukai diri Anda sendiri dan orang lain.
Tidak semua situasi sama, jadi lebih baik selalu diskusikan setiap keluhan yang Anda miliki kepada psikiater.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk gangguan bipolar?

Beberapa tes yang umum dilakukan dokter atau psiakter untuk membantu menegakan diagnosis gangguan bipolar adalah:
  • Tes fisik. Tes ini akan membantu mengetahui sumber keluhan.
  • Tes psikologis. Dokter akan menanyakan beberapa pertanyaan tentang perasan Anda, episode mood, dan pola tingkah laku.
  • Penggambaran Mood. Dokter akan menulis buku harian yang memuat pola tidur, mood, dan tingkah laku untuk membantu menentukan diagnosis Anda.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan bipolar?

Beberapa perubahan gaya hidup sehat dan pengobatan di rumah yang dapat membantu Anda menghadapi bipolar disorder adalah:
  • Melapor dengan segera kepada dokter atau orang yang Anda percaya saat mulai memikirkan bunuh diri.
  • Tidur yang cukup dengan mengikuti jadwal tidur yang rutin.
  • Melakukan aktivitas fisik secara rutin.
  • Meninggalkan hubungan yang tidak membahagiakan.
  • Akhiri kebiasaan mengkonsumsi alkohol dan hindari penyalahgunaan zat terlarang.
Sumber: https://hellosehat.com/penyakit/gangguan-bipolar-disorder/

Autisme

Pengertian dan Tinjauan

Autisme adalah istilah umum yang meliputi gangguan mental yang ditandai dengan lam batnya perkembangan mental. Autisme juga merupakan suatu gangguan yang hadir dalam pelbagai tingkatan usia pada anak-anak. Anak-anak dengan autisme memiliki tantangan dalam mempelajari keterampilan dasar seperti berjalan atau makan serta keterampilan bersosialisasi atau berhubungan bahkan dengan keluarga mereka sendiri.
Selama lebih dari empat dekade, jumlah kasus autisme telah meningkat sekitar 10 kali lipat. Meski jumlah tersebut menimbulkan kekhawatiran, tetapi kepedulian yang juga tumbuh di masyarakat juga dapat membantu dilakukannya diagnosis yang lebih awal dan lebih akurat.
Rumitnya autisme dan kurangnya alat diagnosis yang nyata menjadi sebagian masalah yang harus dihadapi oleh para orang tua, pakar kesehatan, dan dokter.

Penyebab

Penyebab yang pasti dari autisme belum ditemukan. Meskipun demikian, para ahli sudah menemukan hubungan antara autisme dan beberapa faktor termasuk keturunan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap keluarga dengan kasus autisme, jika salah satu dari kembar identik terserang gangguan ini, kemungkinan saudara kembarnya akan terkena juga adalah sampai dengan 90%. Sementara itu, jika salah satu anak terdiagnosis menderita autisme, anak yang kedua akan berpeluang 5% untuk terkena gangguan ini juga.
Bagaimanapun juga, faktor keturunan merupakan hal yang rumit, seperti halnya penyakit itu sendiri. Dalam salah satu penelitian terbaru, ditemukan lebih dari 95 gen yang menjadi penyebab autisme. Namun, gen juga bersifat sangat dinamis. Seperti halnya DNA dan gen yang diturunkan dari generasi ke generasi, keduanya cenderung membawa ciri baru atau gabungan, sehingga bermutasi.
Sementara itu, beberapa penasehat dan pakar kesehatan menyebutkan bahwa faktor lingkungan seperti paparan polusi dan pestisida pada para calon ibu atau beberapa jenis obat memiliki kemungkinan besar untuk menyebabkan pada autisme.
Apakah vaksinasi menjadi penyebab atau hanya memperburuk autisme masih menjadi perdebatan di antara banyak orang. Sejauh ini, belum ada penelitian yang telah menetapkan secara jelas hubungan antara vaksinasi dan autisme.
Gejala-gejala Autisme
Tanda-tanda dan gejala-gejala autisme dapat berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain, tetapi tanda dan gejala tersebut biasanya mulai muncul pada usia sekitar sembilan hingga 12 bulan. Anak-anak dengan autisme biasanya akan menunjukkan:
  • - Kurang ekspresi wajah (mereka tidak bereaksi terhadap rangsangan apapun)
  • - Kurang fokus (mereka tidak dapat menatap mata anda secara langsung)
  • - Kurang mampu berinteraksi (mereka tidak bereaksi terhadap mainan dan rangsangan lain yang bagi anak lain menarik)
  • - Ketidakmampuan untuk bicara (anak dengan autisme berjuang untuk belajar berbicara bahkan untuk mengungkapkan beberapa kata saja)
  • - Lekas marah atau suasana hatinya sering berubah (moody)
  • - Kesulitan dalam menerapkan keterampilan dasar termasuk berjalan dan makan
  • - Berjuang untuk berinteraksi dengan orang lain, khususnya dengan anak-anak.
  • - Kesulitan dalam mempelajari sesuatu, khususnya saatmereka mulai bersekolah.
  • - Kekaguman yang berlebih atau obsesi terhadap sesuatu.
  • - Gerakan dan/atau kata yang berulang
  • - Ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, orang, dan rutinitas yang baru            secara mudah.
- Meskipun kebanyakan anak-anak dengan autisme menunjukkan keterlambatan dalam mempelajari    berbagai keterampilan, beberapa memiliki talenta yang menakjubkan. Anak-anak seperti ini                disebut para genius. Mereka sangat unggul dalam hal yang mereka lakukan, entah dalam musik,      sains atau akademik (seperti matematika). Pada kenyataannya, mereka jauh lebih baik daripada        mereka yang tidak menderita autisme dan keahlian mereka terlihat seperti kemampuan bawaan        atau dipelajari dalam cara yang tidak umum.

Diagnosis dan Perawatan

Tidak seperti kebanyakan penyakit lainnya, para dokter tidak bisa mendiagnosis autisme melalui tes darah atau MRI. Oleh sebab itu, anak-anak kerap kali diarahkan untuk menjalani pelbagai tes termasuk pemeriksaan (check up) menyeluruh dan pemeriksaan perkembangan tingkah laku dan mental mereka saat mereka bertumbuh.
Kesulitan diagnosis mungkin menjadi salah satu alasan mengapa anak-anak baru diperiksa saat mereka dianggap sudah cukup umur. Hal tersebut menjadi masalah karena cara terbaik untuk menangani autisme adalah dengan melakukan intervensi sejak dini.
Meskipun demikian, para pakar kesehatan mendorong orang tua untuk mengikutsertakan anak-anak mereka dalam pengujian perkembangan pada usia yang berbeda-beda. Biasanya, pengujian dapat dimulai sejak usia sembilan bulan. Dokter akan merekomendasikan lebih banyak tes pada waktu-waktu selanjutnya jika terdapat masalah-masalah perkembangan dan fisiologi (misalnya anak mengalami kekurangan berat badan jika dibandingkan dengan usia mereka) atau jika orang tua memiliki anak lain dengan autisme.
Meskipun beberapa orang tua telah menyatakan berhasil mengatasi autisme pada anak-anaknya, sesungguhnya belum ada obat untuk autisme. Terdapat berbagai macam perawatan yang dapat membantu para orang tua dan anak-anak untuk mengatasi gangguan ini secara lebih efektif. Perawatan-perawatan tersebut biasanya dilakukan oleh tim kesehatan profesional termasuk ahli saraf, ahli kesehatan jiwa, dokter umum, ahli gangguan wicara dan bahasa, serta terapis okupasional.
Banyak terapi yang dilakukan oleh para profesional dan pakar autisme berfokus pada perkembangan keterampilan dan modifikasi sikap. Contohnya adalah analisis penerapan sikap yang merupakan salah satu terapi yang memberi banyak penekanan pada peningkatan sikap-sikap positif dengan mengurangi sikap-sikap yang negatif. Saat mereka tumbuh, mereka diajari lebih banyak keterampilan sehingga mereka dapat hidup semandiri mungkin.

Sumber: https://www.docdoc.com/id/info/condition/autisme/