Definisi Stress
stres merupakan stimulus, stres merupakan respon, stres merupakan
interaksi antara individu dengan lingkungan, dan stress sebagai
hubungan antara individu dengan stressor.
a) Stres Sebagai Stimulus
Menurut konsepsi ini stres merupakan stimulus yang ada
dalam lingkungan (environment). Individu mengalami stres bila dirinya
menjadi bagian dari lingkungan tersebut.
b) Stres Sebagai Respon
Konsepsi kedua mengenai stres menyatakan bahwa stress
merupakan respon atau reaksi individu terhadap stressor. Dalam konteks
ini stress merupakan variable tergantung (dependen variable) sedangkan
stressor merupakan variable bebas atau independent variable.
c) Stres Sebagai Interaksi antara Individu dengan Lingkungan
Menurut pandangan ketiga, stress sebagai suatu proses yang
meliputi stressor dan strain dengan menambahkan dimensi hubungan
antara individu dengan lingkungan. Interaksi antara manusia dan
lingkungan yang saling mempengaruhi disebut sebagai hubungan
transaksional.
d) Stres Sebagai Hubungan antara Individu dengan Stressor
Stres bukan hanya dapat terjadi karena faktor-faktor yang ada
di lingkungan. Bahwa stressor juga bisa berupa faktor-faktor yang ada
dalam diri individu, misalnya penyakit jasmani yang dideritanya, konflik
internal, dst. Oleh sebab itu lebih tepat bila stres dipandang sebagai
hubungan antara individu dengan stressor, baik stressor internal maupun
eksternal.
Usaha-Usaha Mengatasi Stress
a) Prinsip Homeostatis.
Stres merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan dan
cenderung bersifat merugikan. Oleh karena itu setiap individu yang
mengalaminya pasti berusaha mengatasi masalah ini. Hal demikian sesuai
dengan prinsip yang berlaku pada organisme, khususnya manusia, yaitu
prinsip homeostatis. Menurut prinsip ini organisme selalu berusaha
mempertahankan keadaan seimbang pada dirinya. Sehingga bila suatu
saat terjadi keadaan tidak seimbang maka akan ada usaha
mengembalikannya pada keadaan seimbang.
Prinsip homeostatis berlaku selama individu hidup. Sebab
keberadaan prinsip pada dasarnya untuk mempertahankan hidup
organisme. Lapar, haus, lelah, dll. merupakan contoh keadaan tidak
seimbang. Keadaan ini kemudian menyebabkan timbulnya dorongan
untuk mendapatkan makanan, minuman, dan untuk beristirahat. Begitu
juga halnya dengan terjadinya ketegangan, kecemasan, rasa sakit, dst.
mendorong individu yang bersangkutan untuk berusaha mengatasi
ketidak seimbangan ini.
b) Proses Coping terhadap Stres
Upaya mengatasi atau mengelola stress dewasa ini dikenal
dengan proses coping terhadap stress. Menurut Bart Smet, coping
mempunyai dua macam fungsi, yaitu : (1) Emotional-focused coping dan
(2) Problem-focused coping. Emotionalfocused coping dipergunakan
untuk mengatur respon emosional terhadap stress. Pengaturan ini
dilakukan melalui perilaku individu seperti penggunaan minuman keras, bagaimana meniadakan fakta-fakta yang tidak menyenangkan, dst.
Sedangkan problem-focused coping dilakukan dengan mempelajari
keterampilan-keterampilan atau cara-cara baru mengatsi stres. Menurut
Bart Smet, individu akan cenderung menggunakan cara ini bila dirinya
yakin dapat merubah situasi, dan metoda ini sering dipergunakan oleh
orang dewasa. Berbicara mengenai uapaya mengatasi Stres, Maramis
berpendapat bahwa ada bermacam-macam tindakan yangdapat dilakukan
untuk itu, yang secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu (1) cara
yang berorientasi pada tugas atau task oriented dan (2) cara yang
berorientasi pada pembelaan ego atau ego defence mechanism.
Mengatasi stres dengan cara berorientasi pada tugas berarti
upaya mengatasi masalah tersebut secara sadar, realistis, dan rasional.
Menurut Maramis cara ini dapat dilakukan dengan “serangan”, penarikan
diri, dan kompromi. Sedangkan cara yang berorientasi pada pembelaan
ego dilakuakn secara tidak sadar (bahwa itu keliru), tidak realistis, dan
tidak rasional. Cara kedua ini dapat dilakukan dengan : fantasi,
rasionalisasi, identifikasi, represi, regresi, proyeksi, penyusunan reaksi
(reaction formation), sublimasi, kompensasi, salah pindah (displacement).
Sumber: Musradinur. (2016). Stress Dan Cara Mengatasinya Dalam Perspektif Psikologi. Jurnal Edukasi. 2(2). 183-200.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar