Rabu, 10 Januari 2018

Autobiografi


            Nama saya Andriansyah Pratama Putra, orang biasa memanggil saya “Andre”. Saya lahir di Jakarta, 10 Mei 1997. Saya anak pertama dari 3 bersaudara. arti dari nama saya adalah: Andriansyah = prajurit, Pratama = pertama, Putra = laki-laki. Jadi, dapat disimpulkan bahwa orang tua saya menamai saya Andriansyah Pratama Putra dengan arti bahwa saya adalah seorang “Prajurit laki-laki pertama”. Maksud “prajurit” menurut kedua orang tua saya adalah bahwa saya dapat menjadi sebuah anak yang selalu menjaga, hadir selalu, dan terus berusaha untuk keluarga nya. Kedua orang tua saya berasal dari 2 daerah yang berbeda. Ayah saya, seorang laki-laki gagah, yang selalu hadir untuk keluarga disetiap kondisi bernama Ali Bondan (51 tahun), ia bekerja di PT. Cigading Habeam Centre, bergerak di bidang baja dan bahan berat lainnya. Ibu saya, seorang tuan putri Bogor yang cantik, yang selalu membuat siapapun nyaman saat disekitarnya bernama Ellanda Rossa (41 Tahun), ia adalah seorang ibu rumah tangga yang selalu ada disetiap anggota keluarga lain membutuhkan bantuannya.
            Ayah saya sudah 35 tahun bekerja di PT. Cigading, posisi beliau sekarang sebagai seorang marketing, yang dimana posisi tersebut tidak didapatkannya secara mudah. Pendidikan akhir ayah saya adalah SMA, maka posisi nya di kantor saat ini bukanlah sesuatu yang masuk akal. Ayah saya 9 bersaudara, pada saat beliau muda, beliau adalah pribadi yang gigih, pantang menyerah, selalu berusaha. Apalagi kondisi ekonomi keluarga ayah pada saat itu tidak seimbang untuk sebuah keluarga beranggota 11 orang. Ayah saya mengerjakan apapun yang halal yang dapat dikerjakan, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Segala macam pekerjaan yang berkenaan dengan fisik pernah beliau lakukan. Bahkan beliau kerja untuk menabung agar dapat membeli mesin ketik untuk membuat suatu tugas pada saat beliau muda. Pada saat lulus SMA,  ayah saya melanjutkan hidupnya dengan bekerja yang dimana pekerjaan beliau tidaklah tetap. Namun beliau selalu berusaha, bersyukur, dan berdoa. Beliau paham betul bahwa beliau memiliki Allah, zat yang akan selalu membantu setiap hamba-Nya yang butuh. Sampai pada akhirnya, di tengah kesehariannya yang melelahkan, ayah saya ditawari sebuah pekerjaan tetap yang berada di kantor, adalah untuk menjadi seorang Admin, dimana ia diminta untuk membantu segala karyawan yang butuh bantuan dalam jasa ketik di PT. Cigading Habeam Centre. Gaji nya tak seberapa, tak sebanding dengan apa yang beliau lakukan. Beliau harus siap bangun pagi, menunggu depan kantor untuk menerima panggilan jasa ketik, agar beliau dapat menghasilkan uang saat sampai kerumah. Namun beliau tak menyerah, ia selalu berusaha yang terbaik. Sampai pada akhirnya, tahun demi tahun berlalu, ia dipandang sebagai orang yang gigih, usaha dan doa nya berbuah hasil, beliau diangkat menjadi bagian dari tempat beliau bekerja. Pengangkatan beliau tidak membuatnya tinggi hati, malah membuat beliau semakin termovitasi agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tanpa melupakan doa serta usaha yang maksimal, di tahun ke 10, beliau menjadi bagian dalam bidang marketing di perusahaan tersebut. Di rumah, beliau dianggap sebagai pribadi yang sangat leadership, ia sempat menjabat sebagai ketua RW selama 2 dekade. Kebetulan, kami tinggal di tempat dimana ayah dibesarkan, jadi rumah kami, ayah sudah kenal betul sekitar lingkungannya. Selama 2 dekade ayah menjabat, segala sesuatu tidak berjalan dengan lancar seperti apa yang diharapkan, walaupun ayah sudah memiliki background yang matang, tidak cukup membuat keadaan lingkungan kondusif setiap saat. Namun karena ayah memiliki komunikasi yang baik dengan lingkungan sekitar, warga siap membantu kinerja ayah disetiap ayah membutuhkan bantuan. Sehingga saya banyak belajar dari beliau untuk bagaimana menjadi seorang yang dianggap baik oleh banyak orang, selain itu saya juga menjadi paham bahwa kerja kerasa, usaha dan doa adalah yang hal utama untuk mencapai sebuah kesuksesan.
            Bercerita tentang Ibu, saya lebih suka memanggil beliau dengan panggilan “Bunda”. Sama seperti ayah saya, bunda adalah pribadi yang sangat gigih, beliau selalu berusaha untuk bagaimana menjadi pribadi yang dapat dicontoh oleh orang lain. Sebelum berkeluarga, beliau adalah seorang anak gadis desa yang sangat humble, dimana kegiatan sehari-hari beliau selalu dihabiskan dengan berkomunikasi dengan sekitar. Bukan tanpa alasan, beliau sengaja menghabiskan waktu di luar rumah, dikarenakan beliau sangat paham bahwa ilmu yang seperti itulah yang tidak didapatkan di dalam kelas. Selain itu, keadaan ekonomi beliau dulu juga tidak se-Alhamdulillah sekarang. Sampai akhirnya, setelah lulus SMA, beliau memutuskan untuk membantu perekonomian keluarga dengan berbagai cara yang halal. Beliau memiliki kelebihan di suara, beliau dapat menyanyikan sebuah lagu dengan sangat cantik. Beliau mampu membuat siapa saja terdiam jika beliau sudah menyanyikan sebuah lagu. Dengan kelebihannya itu, beliau memanfaatkannya dengan menjadikan uang. Dimana beliau akhirnya menjadi artis cafe-cafe ternama di daerah Bogor-Jakarta.
            Kedua orang tua saya dipertemukan di sebuah kesempatan, dimana kondisi ayah saya yang sedang mampir ke sebuah cafe setelah pulang kerja, melihat bunda saya sedang menyanyikan sebuah lagu klasik, ditemani petikan gitar cantik yang membuat lelah ayah hilang.
            Sampai akhirnya Allah mempertemukan kedua insan yang saling melengkapi, dan dikaruniai anak pertama, yaitu saya, Andriansyah Pratama Putra.
             Saya dilahirkan di Jakarta, 1997, sebagai anak pertama. Saya memiliki 2 adik perempuan, Aliffia Dwi Nayla Putri (15 tahun), dia sekarang duduk dikelas 1 SMA, lalu yang terakhir bernama Alya Syahna Keyla (10 tahun), dia sekarang duduk dikelas 5 SD. Saya mengerti bahwa saya mengemban tugas yang tidak mudah. Menjadi anak laki-laki satu-satunya dan sebagai anak pertama yang menjadi tolak ukur Olif dan Keyla. Pada waktu kecil, sekitar umur 1 tahun, bunda bilang bahwa saya adalah pribadi yang sangat riang. Namun memang cara kedua orang tua saya mendidik adalah cenderung keras. Mereka berdua selalu memberi punishment kepada saya, bahkan untuk kesalahan yang kecil. Pada awalnya, saya merasa seperti anak yang merasa selalu disalahkan. Namun ternyata saya salah, ternyata didikan keras kedua orang tua saya berhasil membuat saya menjadi pribadi yang selalu rajin, berusaha keras dan tidak pantang menyerah.
            Jika bicara tentang genetika, kedua orang tua saya saja adalah hanya lulusan SMA, maka kedua orang tua saya paham betul jika saya tidak berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai suatu tujuan, maka saya tidak bisa menjadi contoh yang baik untuk kedua adik saya, serta tidak bisa menjadi pribadi yang dapat dibanggakan oleh kedua orang tua saya. Terkadang, saya juga merasa, disetiap keberhasilan saya dalam mencapai sebuah tujuan, khususnya dalam bidang akademis, bukan semata-mata karena kepintaran saya, atau kelebihan saya dalam bidang pendidikan, namun karena ketekunan saya. Saya Alhamdulillah bisa menjadi pribadi yang tekun jika memang saya menginginkan sesuatu, apalagi sesuatu yang berkaitan dengan membanggakan kedua orang tua saya.
            Saya paham, tekun yang ada pada diri saya dapat dijadikan modal saya untuk mencapai segala pencapaian yang saya inginkan. Namun ada kalanya saya merasa bahwa saya putus semangat, saya tidak bisa melakukan hal tersebut. Seketika saya selalu ingat betapa gigihnya ayah saya, beliau dapat menghidupi 1 istri serta 3 anak dengan baik, padahal umur beliau sudah tidak muda lagi.
            Saya bersekolah TK di TK Niaga Eka Sari, dimana sekolah tersebut dekat dengan rumah saya, sehingga saya selalu jalan bersama bunda untuk sampai ke sekolah. Lalu saya melanjutkan SD saya di sekolah yang sama. Sekolah swasta itu menjadi langkah awal saya untuk mengenal dunia luar, tidak lupa juga kedua orang tua saya selalu disamping saya. Disaat saya jatuh, mereka selalu membantu saya, membuat saya tegar kembali. Namun disaat saya mengeluh, mereka berdua selalu mengajarkan saya dengan sikap yang cenderung agak keras, mereka selalu meninggikan nada untuk memberi tahu saya. Terkadang, saya merasa sangat sedih “kok malah dimarahin?”, namun sekarang saya paham, bahwa kedua orang tua saya menanamkan saya untuk menjadi pribadi yang tangguh.
            Saya melanjutkan SMP saya di SMPN 87 Jakarta Selatan, dimana perpindahan SD Swasta ke SMP Negeri membuat saya makin sadar bahwa keteguhan saya sedikit demi sedikit telah terbentuk. Ruang lingkup saya bertambah, yang tadinya SD Swasta dekat rumah, menjadi SMP Negeri dengan isi berbagai orang dari banyak tempat yang berbeda. Membuat saya belajar, terpacu untuk lebih baik lagi. Saya selalu menaruh target disetiap semesternya. Setidaknya, 10 besar dapat saya jajahi. Ternyata Alhamdulillah, Allah membantu saya, menjawab doa saya. Saya berhasil untuk menjadi pria yang selalu bisa masuk kategori 10 besar. Ayah saya juga mengajarkan untuk selalu menghargai orang lain, karena kita adalah makhluk sosial, maka kita wajib mengadakan interaksi dengan orang lain, karena manusia tidak bisa hidup sendiri.
            Itu yang saya rasakan ketika saya melanjuti sekolah saya ke SMAN 74 Jakarta Selatan. SMA yang sebetulnya sudah dikenal banyak orang sebagai sekolah unggulan, apalagi dalam bidang olahraga. Kebetulan, SMA saya terletak di dalam komplek KOSTRAD (Komando Strategi Angkatan Darat), sehingga sudah menjadi kegiatan sehari-hari melihat para tentara berlatih fisik serta mental. Di sana, saya mendapatkan banyak sekali teman, yang dimana mereka selalu berusaha untuk membantu satu sama lain. Bukan tanpa alasan, namun mereka selalu berpendapat bahwa “selama gue bisa bantu lo, gue bantu. Gue cacat pun kalo ada uang dan bisa bantu, itu uang buat lo.” Pandangan yang menurut saya aneh, saya merasa bahwa “apa emang harus kaya gitu ya?” ternyata mereka, teman-teman saya, yang mengajarkan saya, mendidik saya untuk menjadi pribadi yang tidak perhitungan, selalu ada, dan selalu menjaga. Secara khusus pandangan seperti ini saya dapat dari sahabat saya, Dio. 3 tahun kami bersama, ia juga tahu bahwa saya adalah pribadi yang tidak pantang menyerah, walaupun terkadang juga karena ada faktor keterpaksaan. Setiap pulang sekolah, ia selalu mengajak saya untuk berkumpul dengan teman-teman lainnya, membahas tentang pelajaran dengan kelas lain, terkadang, mengerjakan tugas bersama. Disaat saya tidak bisa melakukan sesuatu, selalu ada teman-teman saya yang siap membantu, terkadang mereka juga mengajarkan saya untuk selalu berusaha, karena tidak selamanya mereka ada untuk saya. Namun, selama saya masih memiliki waktu dengan mereka, saya memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
            Sampai akhirnya, kelulusan tiba, saya dipaksa berpisah dengan mereka. Tujuan kami semua sama, sama-sama ingin masuk PTN, namun rezeki berkata lain, tidak semua dari kami berhasil masuk PTN, namun proses kami untuk mencapai PTN tidak lepas dari bantuan teman satu sama lain. Contoh saat SBM di sekolah yang jauh, teman saya bersedia mengantar, bahkan mengajarkan saya apa saja yang harus saya perhatikan dalam SBM, walaupun kita berdua sama-sama tidak dapat jalur SBM. Tidak menyerah, saya coba jalur Mandiri, saya mencoba Mandiri di banyak Universitas Negeri. Ada beberapa teman saya yang akhirnya menawarkan saya masuk PTN melalui jalur “lain”. Namun ada juga beberapa teman saya yang tidak mau, bahkan mereka rela untuk mengajarkan saya segala materi, daripada mereka membiarkan saya masuk PTN melalui jalur “lain”. Mereka tahu bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Mereka juga tahu bahwa kekurangan saya adalah tidak pandai, namun mereka juga tahu bahwa kelebihan saya adalah rajin, sehingga mereka bersikeras untuk mengajarkan saya pelajaran-pelajaran yang belum saya ketahui. Saya juga sering membantu mereka untuk masuk ke PTN, namun kami sadar, jika Allah belum berkehendak, maka kami harus sabar dan berusaha.

            Sampai akhirnya pilihan saya tertuju di Universitas Gunadarma, saya mengambil jurusan Psikologi karena saya merasa miris dengan keadaan anak kecil sekarang. Saya bercita-cita untuk menjadi bagian dari KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia). Saya juga mengerti bahwa menjadi bagian dari KPAI tidaklah mudah. Maka dari itu, saya berusaha untuk selalu menjadi individu yang rajin dan taat, tidak lupa untuk berusaha dan berdoa. Saya menargetkan memiliki IPK diatas 3,3, Alhamdulillah IPK Semester 1 saya 3,47, saya bersyukur dengan apa yang telah saya terima. Namun, terkadang saya bisa menjadi pribadi yang mudah puas, sehingga pada Semester 2, IPK saya turun ke angka 3,37, membuat saya lebih terpacu untuk menaikkan poin IPK saya pada semester 3,4,5,6,7 dan 8. Namun, saya menganggap pencapaian nilai IPK harus sebanding lurus dengan cara pandang saya dalam hidup, yaitu harus sama-sama baik. Saya tidak akan pernah berhenti untuk menjadi yang terbaik, sampai akhirnya saya bisa menjadi pribadi yang dapat dibanggakan oleh kedua orang tua saya, dan juga dapat menjadi pribadi yang dapat dijadikan contoh oleh kedua adik saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar