Senin, 23 November 2015

Budaya Antri



            Antri adalah salah satu hal yang sekiranya biasa, namun sebetulnya memberikan dampak besar jika kita melakukannya dengan baik dan benar. Antri juga salah satu cara untuk mengajarkan manusia untuk bersifat baik, sabar, dan tertib. Di sisi lain, antri juga menjadi salah satu opsi manusia untuk menjadi pribadi yang lebih teratur. “kalau mau dapet barisan depan, ya datang duluan lah.” Beberapa orang yang tidak terima “antriannya” disalip orang lain, menungkapkan kata ini kepada oknum yang tidak membudayakan antri. Coba misalkan antri bukanlah hal penting, apa yang akan terjadi pada adanya sebuah barisan untuk mendapatkan suatu tujuan? Tanpa antri, hidup tidak akan teratur, akan banyak gejala masyarakat yang timbul, seperti pemicu adanya “salip – menyalip” satu antar lainnya. Maka dari itu, mengantri adalah salah satu hal penting yang harus dibudayakan oleh setiap masyarakat, selain untuk mengatur diri sendiri agar lebih baik, namun juga untuk menjaga perasaan orang lain yang telah mengantri lebih dahulu.

Budaya Buang Sampah Sembarangan



            Membuang sampah adalah kebiasaan buruk yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat sehari – hari. Perilaku tidak tercermin ini biasa dilakukan setiap masyarakat (khususnya rumah tangga) setiap harinya. Kegiatan yang sepele, namun menimbulkan dampak yang sangatlah besar. Dengan seenaknya membuang bekas makan atau sampah entah sampah makanan, industri, maupun rumah tangga ke tempat yang tidak semestinya, contohnya kali, sungai, got, atau jalan raya sekalipun yang kala hujan akan mengalir ke got atau sungai terdekat. Lalu, sampah tersebut akan menghambat aliran sungai yang ada sehingga sungai tersebut akan meluap dan menjadikan sebuah genangan yang akan mengalir ke jalan raya / perumahan warga. Parahnya, ada beberapa titik banjir yang tidak hanya akan menimbulkan genangan, tapi juga menimbulkan aliran yang berasal dari sungai dari aliran kecil hingga aliran yang berintensitas tinggi. Bahkan, sudah banyak kejadian dimana aliran deras sungai yang disebabkan oleh banjir dapat menggusur paksa rumah warga dengan alirannya. Bukan hanya rugi material yang akan diterima, namun juga dari sisi kesehatan maupun sisi kenyamanan tempat tinggal dalam jangka panjang jika kebiasaan buruk ini tidak dapat kita ubah dari sekarang. Pemerintah telah berupaya mengatasi banjir di setiap daerahnya, namun kebanyakan kebiasaan buruk yang dilakukan oleh beberapa oknum masyarakat nakal, tidak dapat mengatasi atau tidak dapat membantu program pemerintah dalam mengatasi kebanjiran yang sudah melanda sampai sekarang.

Pengangguran

Pengangguran

            Pengangguran mungkin bukanlah suatu budaya, namun banyaknya angka pengangguran di Indonesia dari tiap tahun – ke tahunya membuat hal ini menjadi hal yang jelas telah menjadi kebiasaan yang wajar di Indonesia. Dahulu, hal negatif ini banyak diterima oleh masyarakat – masyarakat yang “kurang beruntung” atau yang memiliki ekonomi dibawah rata – rata. Beralasan bahwa mereka tidak punya cukup dana untuk melanjutkan program sekolah mereka. Namun untuk saat ini, masyarakat – masyarakat yang “beruntung” juga banyak yang merasakan hal yang sama. Namun, alasan mereka bukanlah alasan yang jelas dan tidak dapat diterima. Sebagian alasan mereka adalah “malas”. Ya, malas adalah alasan yang tidak dapat diterima oleh setiap orang. Malas mereka membuat angka pengangguran khususnya di negara Indonesia ini terus meningkat tajam. Walaupun sudah banyak produsen – produsen kecil yang membuka lapangan pekerjaan, namun jelas “malas” mereka telah menjadi alasan yang kuat untuk mereka tidak mengikuti program – program usaha kecil tersebut.

Budaya Impor Produk Dari Luar



            Mengimpor produk kebutuhan dari luar negeri adalah salah satu contoh budaya yang sangat berpengaruh besar dengan pertumbuhan ekonomi kita sebagai masyarakat Indonesia. Hal itu dikarenakan banyak barang yang dikonsumsi sehari – hari oleh masyarakat adalah kebanyakan produk dari luar, membuat perekonomian Indonesia semakin lemah dan melemah. Indonesia bisa dikatakan sebagai masyarakat konsumtif luar negeri yang cukup besar di dunia. Kebiasaan ini harus dibenahi, diperbaiki, karena sebetulnya produsen – produsen  Indonesia juga banyak yang bagus, inovatif, dan produktif. Hanya saja, kebanyakan dari mereka kurang bisa bersaing dengan pasar – pasar yang notabennya telah memiliki nama besar di pasar dunia. Ini menjadi pelajaran besar bagi produsen – produsen kecil yang sebetulnya memiliki kualitas yang tidak kalah pula.

Budaya Mencontek



            Mencontek adalah hal yang negatif, perilaku yang sepatutnya tidak dicontoh. Namun, hal itu sudah menjadi budaya di lingkup hampir seluruh pelajar khususnya di Indonesia. Hal ini menjadi masalah yang sudah dilakukan oleh orang – orang terdahulu, miris memang. Banyak yang memberi pendapat bahwa mencontek adalah hal yang wajar, karena itu adalah salah satu cara untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Namun, apakah nilai yang tinggi, akan berbanding lurus dengan kemampuan otak “si pencontek”? Pernah suatu hari, di suatu kesempatan, saya melihat “si pencontek” ketawan mencontek oleh gurunya. Namun ternyata alasan si pencontek sangatlah jelas, ia tidak mau mendapatkan nilai rendah karena sistem pendidikan di Indonesia, masih mementingkan perihal nilai, maupun sertifikat yang berstandar tinggi, bukan kemampuan dan pengetahuan yang jelas lebih berguna untuk memajukan sebuah bangsa dan negara. Pelaku contek seakan – akan geram dengan beberapa “pembinanya” yang sekedar mementingkan nilai, maka dari itu, tidak sedikit dari mereka rela untuk meperbaiki nilai mereka dengan cara mencontek.

Budaya Selfie



            Selfie adalah kegiatan memfoto diri sendiri, kebanyakan orang melakukan kegiatan ini dengan menggunakan kamera handphone. Kegiatan ini bertujuan dengan banyak alasan. Ada yang beralasan untuk menambah kepercayaan diri dengan kecantikan / ketampanan dirinya, atau hanya sekedar untuk iseng karena memiliki fantasi yang positif saat melakukan ”selfie” tadi. Selfie sebetulnya merupakan kegiatan yang tidak salah, namun penggunaannya yang kadang di salah artikan membuat penggunanya harus berhati – hati terhadap kegiatan selfie tadi. Selfie dapat dikatakan berbahaya atau “salah” penggunaannya karena beberapa hal, contohnya dengan selfie, kita dapat membuat sekian orang merasa kesal dengan pose selfie yang tidak sewajarnya. Atau dengan menulis caption yang terkesan sombong dan angkuh yang membuat orang yang melihatnya merasa tidak suka.

Budaya Mencari Handphone Setelah Bangun Tidur



          Dalam era serba teknologi seperti saat ini, teknologi telah mendominasi hampir dari seluruh aspek lapisan masyarakat di muka bumi ini. Saat ini, handphone adalah hal yang tidak bisa lepas dari genggaman bagi kebanyakan orang. Setiap saat, handphone seperti sesuatu yang diwajibkan hadir dalam menjalani kehidupan sehari – hari. Dari mulai bangun tidur, hingga kembali tidur, handphone adalah hal yang paling sering dipegang / disentuh. Masalahnya, kegunaan handphone saat ini bukanlah hanya sekedar untuk mengirim pesan singkat atau hanya sekedar menerima atau memanggil panggilan, namun bisa sebagaii alat bukti pembayaran, browsing hal – hal penting, bermain games yang mempunyai spesifikasi tinggi, atau hanya untuk sekedar mengecek beberapa kegiatan sosial media yang ada. Hal buruknya adalah, handphone telah membudaya didalam masyarakat, maka dari itu, handphone dianggap adalah hal yang sangat penting bagi manusia pada saat ini. Bahkan, saat baru bangun tidur pun, handphone adalah hal yang paling dicari pertama kali, bukan mengambil minum, atau berolahraga kecil. Kebanyakan, mereka beralasan karena takut ada hal penting yang ada pada lingkup sekitarnya, atau hanya sekedar untuk mengecek siapa yang mencari keberadaan dia, atau hanya sekedar untuk mencari tau bagaimana update yang ada disekitarnya.

Budaya Kartun Minggu



            Kartun adalah siaran yang biasanya menampilkan karakter – karakter 2 dimensi dengan rangkaian cerita serta tokoh – tokoh yang lucu, menarik, menggemaskan, serta menyenangkan untuk ditonton. Kartun juga sebagai sarana hiburan sekaligus edukasi khususnya bagi anak yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Dengan padatnya aktivitas yang dilakukan pada 6 hari dalam seminggu, hanya ada 1 hari dimana beberapa orang dapat merasakan hari istirahat mereka. Bagi para orang tua, hari minggu adalah hari dimana mereka dapat mengontrol anaknya dari bangun tidur, hingga mereka tidur. Sama dengan orang tua, kebanyakan anak akan merasa kedekatan atau quality time yang mereka rasakan dengan orang tua mereka yang sibuk di 6 hari sebelumnya. Untuk yang hanya berdiam diri dirumah pada hari minggu, kartun adalah siaran terbaik untuk mengkomunikasikan edukasi – edukasi, hal yang terkandung di dalam kartun tersebut antar anak dan orang tua mereka.

Parkir Sembarangan



            “Parkir” adalah hal yang setiap hari dilakukan oleh setiap pengendara motor atau mobil di dunia. Entah dalam kurung waktu hitungan menit, jam, maupun hari. Namun, masih ada beberapa perilaku perihal etika parkir yang tidak dapat menjadi cerminan bagi setiap pengendara lainnya. Masih banyak beberapa oknum yang hanya meletakkan kendaraannya sembarangan. Asal rapih, walaupun ditempat yang dilarang sekalipun, mereka menganggap itu sebagai suatu yang wajar. Di Indonesia, ada beberapa larangan tentang parkir yang disampaikan pemerintah melalui beberapa plang – plang jalan, contohnya huruf “S” yang dicoret, atau huruf “P” yang dicoret. Simbol – simbol ini dapat ditemukan dibeberapa sudut jalan yang ada khususnya di Indonesia. Simbol ini bertujuan untuk menata bagian – bagian jalan sedemikian rupa agar dapat menghindari kemacetan. Namun buktinya masih banyak oknum – oknum nakal yang melakukan hal negatif ini, baik dari sang pengendara, maupun si tukang parkir yang sembarangan mencari tempat yang cukup luas untuk dijadikannya ladang dirinya mengais rezeki, tempat ini biasa disebut dengan “parkir liar”.

Budaya Kemacetan



Kemacetan adalah polemik yang menjadi sesuatu yang sudah membudaya khususnya pada daerah sekitar DKI Jakarta. Saya sebagai individu yang tinggal di daerah Jakarta Selatan, tidak dapat menghindar dari yang namanya kemacetan. Hal ini sudah menjadi hal yang seakan – akan membudaya di masyarakat sekitar saya. Dengan segala aktivitas keseharian yang terus menerus, seperti berangkat ke sekolah maupun ke kantor, kebanyakan orang dengan aktivitas kesehariannya yang mewajibkan mereka untuk sampai ke sekolah ataupun kantor pada pagi hari, membuat jalan raya besar terlihat seperti unsur dari barisan kendaraan bermotor 2 maupun 4. Hal ini dapat kita jumpai di banyak titik khususnya pada pagi hari (jam berangkat kantor/sekolah) dan sore hari (jam pulang kantor/sekolah). Banyaknya pelaku aktivitas tersebut membuat beberapa titik jalan raya menjadi sangatlah padat di setiap sudutnya. Tak jarang, bahkan memicu konflik keributan karena mereka terlalu berdesakkan.

Budaya Malam


Budaya malam adalah beberapa aktivitas yang biasa dilakukan pada malam hari. Biasanya, aktivitas yang dilakukan mengarah kepada sisi bahagia seseorang, atau bisa disebut sebaga perlakuan menyenangkan yang dilakukan setiap individu pada malam hari. Budaya ini biasa dijumpai biasanya diatas jam 10 malam hari. Individu pelaku rutinitas ini biasa datang dari kalangan pekerja atau bahkan hingga pelajar atau mahasiswa yang biasanya mereka melakukan kegiatan ini saat ada hari libur (waktu senggang). Budaya malam bukanlah kegiatan yang sepenuhnya negatif, itu hanyalah beberapa opini dari masyarakat awam yang tidak paham betul apa yang dilakukan pelaku aktivitas malam. Sebagai contoh seorang suami yang memiliki tugas yang memaksa beliau untuk lembur di kantor. Dengan tambahan beberapa jam, beliau baru diizinkan untuk pulang, namun ditengah perjalanan, ada beberapa hal yang membuatnya lelah, ingin segera beristirahat, namun tidak dengan tidur, namun dengan memaparkan beberapa kebahagiaan saat itu juga. Bukannya menuju kerumah, tempat hiburan malam lah yang ia kunjungi, dengan beberapa pentas musik yang dimainkan oleh DJ (Disk Jockey), beliau merasakan hentakan musik tersebut, lalu menggoyangkan badannya, berteriak sekencang – kencangnya, melupakan semua unsur pekerjaan yang kian membuatnya merasa tidak baik pada saat itu. Setelah ia merasa cukup, ia baru pulang menuju arah rumah, namun sekarang dengan perasaan yang lebih baik, sehingga tidak membawa masalah kerumah.

Rabu, 07 Oktober 2015

Sejarah Perkembangan Budaya Betawi di Indonesia

SEJARAH KEBUDAYAAN BETAWI


Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Bugis, Makassar, Ambon, Melayu dan Tionghoa.
Pada tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu itu.
Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong
Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.
Ada juga yang berpendapat bahwa orang Betawi tidak hanya mencakup masyarakat campuran dalam benteng Batavia yang dibangun oleh Belanda tapi juga mencakup penduduk di luar benteng tersebut yang disebut masyarakat proto Betawi. Penduduk lokal di luar benteng Batavia tersebut sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.
Selain itu, perjanjian antara Surawisesa (raja Kerajaan Sunda) dengan bangsa Portugis pada tahun 1512 yang membolehkan Portugis untuk membangun suatu komunitas di Sunda Kalapa mengakibatkan perkawinan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis yang menurunkan darah campuran Portugis. Dari komunitas ini lahir musik keroncong.
Istilah Betawi
Kata Betawi digunakan untuk menyatakan suku asli yang menghuni Jakarta dan bahasa Melayu Kreol yang digunakannya, dan juga kebudayaan Melayunya. Kata Betawi berasal dari kata “Batavia,” yaitu nama lama Jakarta yang diberikan oleh Belanda.
Setelah kemerdekaan
Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan (1945), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi — dalam arti apapun juga — tinggal sebagai minoritas. Pada tahun 1961, ‘suku’ Betawi mencakup kurang lebih 22,9 persen dari antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran, bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Walaupun sebetulnya, ’suku’ Betawi tidaklah pernah tergusur atau digusur dari Jakarta, karena proses asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses panjang itu pulalah ’suku’ Betawi hadir di bumi Nusantara.
Seni dan kebudayaan
Budaya Jakarta merupakan budaya mestizo, atau sebuah campuran budaya dari beragam etnis. Sejak zaman Belanda, Jakarta merupakan ibu kota Indonesia yang menarik pendatang dari dalam dan luar Nusantara. Suku-suku yang mendiami Jakarta antara lain, Jawa, Sunda, Minang, Batak, dan Bugis. Selain dari penduduk Nusantara, budayaJakarta juga banyak menyerap dari budaya luar, seperti budaya Arab,Tiongkok, India, dan Portugis.
Suku Betawi sebagai penduduk asli Jakarta agak tersingkirkan oleh penduduk pendatang. Mereka keluar dari Jakarta dan pindah ke wilayah-wilayah yang ada di provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten. Budaya Betawi pun tersingkirkan oleh budaya lain baik dariIndonesia maupun budaya barat. Untuk melestarikan budaya Betawi, didirikanlah cagar budaya di Situ Babakan.
Bahasa
Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing.
Ada juga yang berpendapat bahwa suku bangsa yang mendiami daerah sekitar Batavia juga dikelompokkan sebagai suku Betawi awal (proto Betawi). Menurut sejarah, Kerajaan Tarumanagara, yang berpusat di Sundapura atau Sunda Kalapa, pernah diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena itu, tidak heran kalau etnis Sunda di pelabuhan Sunda Kalapa, jauh sebelum Sumpah Pemuda, sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.
Karena perbedaan bahasa yang digunakan tersebut maka pada awal abad ke-20, Belanda menganggap orang yang tinggal di sekitar Batavia sebagai etnis yang berbeda dengan etnis Sunda dan menyebutnya sebagai etnis Betawi (kata turunan dari Batavia). Walau demikian, masih banyak nama daerah dan nama sungai yang masih tetap dipertahankan dalam bahasa Sunda seperti kata Ancol, Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng (yang berasal dari Cihideung dan kemudian berubah menjadi Cideung dan tearkhir menjadi Cideng), dan lain-lain yang masih sesuai dengan penamaan yang digambarkan dalam naskah kuno Bujangga Manik yang saat ini disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris.
Meskipun bahasa formal yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa informal atau bahasa percakapan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dialek Betawi.
Musik
Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tionghoa, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab, dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Gambang Kromong, Rebana, Tanjidor dan Keroncong.
Tari
Seni tari di Jakarta merupakan perpaduan antara unsur-unsur budaya masyarakat yang ada di dalamnya. contohnya tari jaipong, Cokek dan lain-lain.Pada awalnya, seni tari di Jakartamemiliki pengaruh Sunda dan Tiongkok, seperti tari Jaipong dengan kostum penari khas pemain Opera Beijing. Namun Jakarta dapat dinamakan daerah yang paling dinamis. Selain seni tari lama juga muncul seni tari dengan gaya dan koreografi yang dinamis.
Cerita rakyat
Cerita rakyat yang berkembang di Jakarta selain cerita rakyat yang sudah dikenal seperti Si Pitung, juga dikenal cerita rakyat lain seperti serial Jagoan Tulen atau si jampang yang mengisahkan jawara-jawara Betawi baik dalam perjuangan maupun kehidupannya yang dikenal “keras”. Selain mengisahkan jawara atau pendekar dunia persilatan, juga dikenal cerita Nyai Dasima yang menggambarkan kehidupan zaman kolonial. creita lainnya ialah Mirah dari Marunda, Murtado Macan Kemayoran, Juragan Boing dan yang lainnya.
Kepercayaan
Sebagian besar Orang Betawi menganut agama Islam, tetapi yang menganut agama Kristen; Protestan dan Katolik juga ada namun hanya sedikit sekali. Di antara suku Betawi yang beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis. Hal ini wajar karena pada awal abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda mengadakan perjanjian dengan Portugis yang membolehkan Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kalapa sehingga terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kalapa. Komunitas Portugis ini sekarang masih ada dan menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara.
Perilaku dan sifat
Asumsi kebanyakan orang tentang masyarakat Betawi ini jarang yang berhasil, baik dalam segi ekonomi, pendidikan, dan teknologi. Padahal tidak sedikit orang Betawi yang berhasil. Beberapa dari mereka adalah Muhammad Husni Thamrin, Benyamin Sueb, dan Fauzi Bowo yang menjadi Gubernur Jakarta saat ini .
Ada beberapa hal yang positif dari Betawi antara lain jiwa sosial mereka sangat tinggi, walaupun kadang-kadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan cenderung tendensius. Orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orangtua (terutama yang beragama Islam), kepada anak-anaknya. Masyarakat Betawi sangat menghargai pluralisme. Hal ini terlihat dengan hubungan yang baik antara masyarakat Betawi dan pendatang dari luar Jakarta.
Orang Betawi sangat menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti dari perilaku kebanyakan warga yang mesih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan sebagian besar masyarakat Betawi masa kini agak terpinggirkan oleh modernisasi di lahan lahirnya sendiri (baca : Jakarta). Namun tetap ada optimisme dari masyarakat Betawi generasi mendatang yang justru akan menopang modernisasi tersebu
Sebagai suku asli di Jakarta, Betawi sangat kaya akan seni dan budaya. Namun, tidak semua kesenian Betawi dikenal masyarakat secara luas, termasuk seni topeng blantek. Padahal, jauh sebelum kesenian tradisional Betawi seperti gambang kromong, lenong dan lain sebagainya dikenal masyarakat, topeng blantek sudah lebih dulu hadir di tengah-tengah masyarakat Betawi.
Soal asal-usul nama kesenian ini berasal dari dua suku kata, yaitu topeng dan blantek. Istilah topeng berasal dari bahasa Cina di zaman Dinasti Ming. Topeng asal kata dari to dan pengTo artinya sandi dan peng artinya wara. Jadi topeng itu bila dijabarkan berarti sandiwara. Sedangkan untuk kata blantek ada beberapa pendapat. Ada yang mengatakan berasal dari bunyi-bunyian musik yang mengiringinya. Yaitu satu rebana biang, dua rebana anak dan satu kecrek yang menghasilkan bunyi, blang blang crek. Namun, karena lidah lokal ingin enaknya saja dalam penyebutan maka munculah istilah blantek.
Pendapat lainnya mengatakan, asal nama blantek berasal dari Inggris, yaitu blindtexs, yang berarti buta naskah. Marhasan (55), tokoh pelestari topeng blantek mengatakan, permainan blantek dahulu kala tidak memakai naskah dan sutradara hanya memberikan gagasan-gagasan garis besar cerita yang akan dimainkan.
Ciri dari kesenian topeng blantek yaitu terdapat tiga buah sundung (kayu yang dirangkai berbentuk segi tiga yang biasa digunakan untuk memikul sayuran, rumput dan lain sebagainya). Yaitu satu sundung berukuran besar dan dua berukuran kecil yang diletakkan di pentas sebagai pembatas para pemain yang sedang berlakon dengan panjak dan musik juga dengan para pemain lain yang belum dapat giliran berlakon. Kemudian perangkat lainnya berupa obor yang diletakkan di tengah pentas.
Namun, di tengah modernisasi zaman kesenian yang dulu dikenal di kalangan rakyat jelata tersebut saat ini kondisinya hampir punah. Bahkan, keberadaan seniman dan sanggar tari topeng blantek boleh dikatakan hidup segan mati tak mau.
Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Betawi
https://nugrohogrind.wordpress.com/2012/10/30/sejarah-kebudayaan-betawi/

Sabtu, 03 Oktober 2015

Tugas Antropologi 1

Minggu, 4 Oktober 2015

5 DEFINISI ANTROPOLOGI

A. Menurut Ralf dan Harry                                                                                                       Antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dan semua apa yang dikerjakan olehnya.
B. Menurut David Hunter                                                                                                         Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingin tahuan tentang umat manusia yang tidak terbatas.
C. Rifhi Siddiq
Antropologi merupakan sebuah ilmu yang mendalami semua umat aspek yang terdapat pada manusia yang terdiri atas berbagai macam konsepsi kebudayaan, ilmu pengetahuan, norma, seni, linguistik dan lambang, tradisi, teknologi, kelembagaan.
D. Menurut William A. Haviland                                                                                               Antropologi adalah studi tentang umat manusia, yang berusaha menyusun generalalisasi yang bermanfaat tentang manusia dari perilakunya  serta untuk memperoleh pengetahuan yang lengkap tentang keanekaragaman manusia itu sendiri.
E. Koentjaraningrat                                                                                                                     Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.

2 BIOGRAFI AHLI DI BIDANG ANTROPOLOGI

  • David Hunter Hubel (lahir di Windsor, Ontario, Kanada, 27 Februari 1926 – meninggal di Lincoln, Massachusetts, 22 September 2013 pada umur 87 tahun) ialah seorang neurobiolog Kanada-Amerika Serikat. Kakeknya adalah imigran dari Nordlingen, Bayern.
Hubel ialah profesor neurobiologi di Harvard Medical School, Cambridge (Boston), Massachusetts.
Pada tahun 1981 bersama dengan Torsten Nils Wiesel ia dinugerahi hadiah nobel dalam karya fisiologi atau kedokteran "karya mengenai proses informasi visual di otak".
Ia meninggal karena gagal ginjal pada tanggal 22 September 2013 pada usia 87 tahun.
  • Koentjaraningrat lahir di Sleman 15 Juni 1923. Beliau adalah antropolog pertama Indonesia.
Ayahnya R.M. Emawan Brotokoesomo, adalah seorang pamong praja di lingkungan Pakualaman. Ibunya, R.A. Pratisi Tirtotenojo, sering diundang sebagai penerjemah bahasa Belanda oleh keluarga Paku Alam. Walaupun anak tunggal, didikan ala Belanda yang diterapkan ibunya membuatnya menjadi pribadi yang disiplin dan mandiri sejak kecil.
Koentjaraningrat tertarik pada bidang antropologi sejak menjadi asisten Prof. G.J. Held, guru besar antropologi di Universitas Indonesia, yang mengadakan penelitian lapangan di Sumbawa. Sarjana Sastra Bahasa Indonesia dari Universitas Indonesia 1952, ini meraih gelar M.A. bidang Antropologi dari Yale University, AS, 1956 dan doktor antropologi dari Universitas Indonesia,1958.
Pak Koen, demikian ia disapa, merintis berdirinya sebelas jurusan antropologi di berbagai universitas di Indonesia. Ilmuwan yang mahir berbahasa Belanda dan Inggris ini juga tekun menulis. Beberapa karya tulisnya telah menjadi rujukan bagi dosen dan mahasiswa di Indonesia. Ia banyak menulis mengenai perkembangan antropologi Indonesia. Sejak tahun 1957 hingga 1999, ia telah menghasilkan puluhan buku serta ratusan artikel.
Melalui tulisannya, ia mengajarkan pentingnya mengenal masyarakat dan budaya bangsa sendiri. Buah-buah pikirannya yang terangkum dalam buku kerap dijadikan acuan penelitian mengenai kondisi sosial, budaya, dan masyarakat Indonesia, baik oleh para ilmuwan Indonesia maupun asing.
Salah satu bukunya yang menjadi pusat pembelajaran para mahasiswanya adalah Koentjaraningrat dan Antropologi Indonesia, yang diterbitkan pada tahun 1963. Dalam buku itu, diceritakan kegiatan Prof Dr Koentjaraningrat dalam menimba ilmu. Juga di dalamnya, dia menjadi tokoh pusat dalam perkembangan antropologi.
Berbagai penghargaan telah dianugerahkan padanya atas pengabdiannya dalam pengembangan ilmu antropologi. Di antaranya, penghargaan ilmiah gelar doctor honoris causa dari Universitas Utrecht, 1976 dan Fukuoka Asian Cultural Price pada tahun 1995. Pak Koen juga mendapat penghargaan Satyalencana Dwidja Sistha dari Menhankam RI (1968 dan 1981).

Beberapa karya Koentjaraningrat antara lain:
- Atlas etnografi sedunia dan pertjontohan etnografi sedunia. Djakarta: Dian Rakyat
- Beberapa pokok antropologi sosial. Djakarta: Dian Rakyat
- Pengantar antropoloji. Edisi Malaysia. Kuala Lumpur: Pustaka Antara, 1970.
- A preliminary description of the Javanese kinship system. [New Haven]: Yale University, Southeast       Asia Studies, vii+112 pp. [Cultural Report Series 4.]
- DLL.

Antropolog pertama Indonesia ini meninggal dunia dalam usia 75 tahun, Selasa 23 Maret 1999 sekitar pukul 16.25, di RS Kramat 128, Jakarta Pusat. Dia telah terkena stroke sejak 1989. Dimakamkan di TPU Karet Bivak, Rabu 24 Maret 1999 sekitar pukul 13.00.

Sumber:                                                                                       http://pknmbedun.blogspot.co.id/2013/06/sejarah-dan-pengertian-antropologi.html http://www.gurupendidikan.com/40-pengertian-antropologi-menurut-para-ahli-dunia/ https://id.wikipedia.org/wiki/David_Hunter_Hubel               https://id.wikipedia.org/wiki/Koentjaraningrat