Senin, 23 November 2015

Budaya Antri



            Antri adalah salah satu hal yang sekiranya biasa, namun sebetulnya memberikan dampak besar jika kita melakukannya dengan baik dan benar. Antri juga salah satu cara untuk mengajarkan manusia untuk bersifat baik, sabar, dan tertib. Di sisi lain, antri juga menjadi salah satu opsi manusia untuk menjadi pribadi yang lebih teratur. “kalau mau dapet barisan depan, ya datang duluan lah.” Beberapa orang yang tidak terima “antriannya” disalip orang lain, menungkapkan kata ini kepada oknum yang tidak membudayakan antri. Coba misalkan antri bukanlah hal penting, apa yang akan terjadi pada adanya sebuah barisan untuk mendapatkan suatu tujuan? Tanpa antri, hidup tidak akan teratur, akan banyak gejala masyarakat yang timbul, seperti pemicu adanya “salip – menyalip” satu antar lainnya. Maka dari itu, mengantri adalah salah satu hal penting yang harus dibudayakan oleh setiap masyarakat, selain untuk mengatur diri sendiri agar lebih baik, namun juga untuk menjaga perasaan orang lain yang telah mengantri lebih dahulu.

Budaya Buang Sampah Sembarangan



            Membuang sampah adalah kebiasaan buruk yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat sehari – hari. Perilaku tidak tercermin ini biasa dilakukan setiap masyarakat (khususnya rumah tangga) setiap harinya. Kegiatan yang sepele, namun menimbulkan dampak yang sangatlah besar. Dengan seenaknya membuang bekas makan atau sampah entah sampah makanan, industri, maupun rumah tangga ke tempat yang tidak semestinya, contohnya kali, sungai, got, atau jalan raya sekalipun yang kala hujan akan mengalir ke got atau sungai terdekat. Lalu, sampah tersebut akan menghambat aliran sungai yang ada sehingga sungai tersebut akan meluap dan menjadikan sebuah genangan yang akan mengalir ke jalan raya / perumahan warga. Parahnya, ada beberapa titik banjir yang tidak hanya akan menimbulkan genangan, tapi juga menimbulkan aliran yang berasal dari sungai dari aliran kecil hingga aliran yang berintensitas tinggi. Bahkan, sudah banyak kejadian dimana aliran deras sungai yang disebabkan oleh banjir dapat menggusur paksa rumah warga dengan alirannya. Bukan hanya rugi material yang akan diterima, namun juga dari sisi kesehatan maupun sisi kenyamanan tempat tinggal dalam jangka panjang jika kebiasaan buruk ini tidak dapat kita ubah dari sekarang. Pemerintah telah berupaya mengatasi banjir di setiap daerahnya, namun kebanyakan kebiasaan buruk yang dilakukan oleh beberapa oknum masyarakat nakal, tidak dapat mengatasi atau tidak dapat membantu program pemerintah dalam mengatasi kebanjiran yang sudah melanda sampai sekarang.

Pengangguran

Pengangguran

            Pengangguran mungkin bukanlah suatu budaya, namun banyaknya angka pengangguran di Indonesia dari tiap tahun – ke tahunya membuat hal ini menjadi hal yang jelas telah menjadi kebiasaan yang wajar di Indonesia. Dahulu, hal negatif ini banyak diterima oleh masyarakat – masyarakat yang “kurang beruntung” atau yang memiliki ekonomi dibawah rata – rata. Beralasan bahwa mereka tidak punya cukup dana untuk melanjutkan program sekolah mereka. Namun untuk saat ini, masyarakat – masyarakat yang “beruntung” juga banyak yang merasakan hal yang sama. Namun, alasan mereka bukanlah alasan yang jelas dan tidak dapat diterima. Sebagian alasan mereka adalah “malas”. Ya, malas adalah alasan yang tidak dapat diterima oleh setiap orang. Malas mereka membuat angka pengangguran khususnya di negara Indonesia ini terus meningkat tajam. Walaupun sudah banyak produsen – produsen kecil yang membuka lapangan pekerjaan, namun jelas “malas” mereka telah menjadi alasan yang kuat untuk mereka tidak mengikuti program – program usaha kecil tersebut.

Budaya Impor Produk Dari Luar



            Mengimpor produk kebutuhan dari luar negeri adalah salah satu contoh budaya yang sangat berpengaruh besar dengan pertumbuhan ekonomi kita sebagai masyarakat Indonesia. Hal itu dikarenakan banyak barang yang dikonsumsi sehari – hari oleh masyarakat adalah kebanyakan produk dari luar, membuat perekonomian Indonesia semakin lemah dan melemah. Indonesia bisa dikatakan sebagai masyarakat konsumtif luar negeri yang cukup besar di dunia. Kebiasaan ini harus dibenahi, diperbaiki, karena sebetulnya produsen – produsen  Indonesia juga banyak yang bagus, inovatif, dan produktif. Hanya saja, kebanyakan dari mereka kurang bisa bersaing dengan pasar – pasar yang notabennya telah memiliki nama besar di pasar dunia. Ini menjadi pelajaran besar bagi produsen – produsen kecil yang sebetulnya memiliki kualitas yang tidak kalah pula.

Budaya Mencontek



            Mencontek adalah hal yang negatif, perilaku yang sepatutnya tidak dicontoh. Namun, hal itu sudah menjadi budaya di lingkup hampir seluruh pelajar khususnya di Indonesia. Hal ini menjadi masalah yang sudah dilakukan oleh orang – orang terdahulu, miris memang. Banyak yang memberi pendapat bahwa mencontek adalah hal yang wajar, karena itu adalah salah satu cara untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Namun, apakah nilai yang tinggi, akan berbanding lurus dengan kemampuan otak “si pencontek”? Pernah suatu hari, di suatu kesempatan, saya melihat “si pencontek” ketawan mencontek oleh gurunya. Namun ternyata alasan si pencontek sangatlah jelas, ia tidak mau mendapatkan nilai rendah karena sistem pendidikan di Indonesia, masih mementingkan perihal nilai, maupun sertifikat yang berstandar tinggi, bukan kemampuan dan pengetahuan yang jelas lebih berguna untuk memajukan sebuah bangsa dan negara. Pelaku contek seakan – akan geram dengan beberapa “pembinanya” yang sekedar mementingkan nilai, maka dari itu, tidak sedikit dari mereka rela untuk meperbaiki nilai mereka dengan cara mencontek.

Budaya Selfie



            Selfie adalah kegiatan memfoto diri sendiri, kebanyakan orang melakukan kegiatan ini dengan menggunakan kamera handphone. Kegiatan ini bertujuan dengan banyak alasan. Ada yang beralasan untuk menambah kepercayaan diri dengan kecantikan / ketampanan dirinya, atau hanya sekedar untuk iseng karena memiliki fantasi yang positif saat melakukan ”selfie” tadi. Selfie sebetulnya merupakan kegiatan yang tidak salah, namun penggunaannya yang kadang di salah artikan membuat penggunanya harus berhati – hati terhadap kegiatan selfie tadi. Selfie dapat dikatakan berbahaya atau “salah” penggunaannya karena beberapa hal, contohnya dengan selfie, kita dapat membuat sekian orang merasa kesal dengan pose selfie yang tidak sewajarnya. Atau dengan menulis caption yang terkesan sombong dan angkuh yang membuat orang yang melihatnya merasa tidak suka.

Budaya Mencari Handphone Setelah Bangun Tidur



          Dalam era serba teknologi seperti saat ini, teknologi telah mendominasi hampir dari seluruh aspek lapisan masyarakat di muka bumi ini. Saat ini, handphone adalah hal yang tidak bisa lepas dari genggaman bagi kebanyakan orang. Setiap saat, handphone seperti sesuatu yang diwajibkan hadir dalam menjalani kehidupan sehari – hari. Dari mulai bangun tidur, hingga kembali tidur, handphone adalah hal yang paling sering dipegang / disentuh. Masalahnya, kegunaan handphone saat ini bukanlah hanya sekedar untuk mengirim pesan singkat atau hanya sekedar menerima atau memanggil panggilan, namun bisa sebagaii alat bukti pembayaran, browsing hal – hal penting, bermain games yang mempunyai spesifikasi tinggi, atau hanya untuk sekedar mengecek beberapa kegiatan sosial media yang ada. Hal buruknya adalah, handphone telah membudaya didalam masyarakat, maka dari itu, handphone dianggap adalah hal yang sangat penting bagi manusia pada saat ini. Bahkan, saat baru bangun tidur pun, handphone adalah hal yang paling dicari pertama kali, bukan mengambil minum, atau berolahraga kecil. Kebanyakan, mereka beralasan karena takut ada hal penting yang ada pada lingkup sekitarnya, atau hanya sekedar untuk mengecek siapa yang mencari keberadaan dia, atau hanya sekedar untuk mencari tau bagaimana update yang ada disekitarnya.

Budaya Kartun Minggu



            Kartun adalah siaran yang biasanya menampilkan karakter – karakter 2 dimensi dengan rangkaian cerita serta tokoh – tokoh yang lucu, menarik, menggemaskan, serta menyenangkan untuk ditonton. Kartun juga sebagai sarana hiburan sekaligus edukasi khususnya bagi anak yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Dengan padatnya aktivitas yang dilakukan pada 6 hari dalam seminggu, hanya ada 1 hari dimana beberapa orang dapat merasakan hari istirahat mereka. Bagi para orang tua, hari minggu adalah hari dimana mereka dapat mengontrol anaknya dari bangun tidur, hingga mereka tidur. Sama dengan orang tua, kebanyakan anak akan merasa kedekatan atau quality time yang mereka rasakan dengan orang tua mereka yang sibuk di 6 hari sebelumnya. Untuk yang hanya berdiam diri dirumah pada hari minggu, kartun adalah siaran terbaik untuk mengkomunikasikan edukasi – edukasi, hal yang terkandung di dalam kartun tersebut antar anak dan orang tua mereka.

Parkir Sembarangan



            “Parkir” adalah hal yang setiap hari dilakukan oleh setiap pengendara motor atau mobil di dunia. Entah dalam kurung waktu hitungan menit, jam, maupun hari. Namun, masih ada beberapa perilaku perihal etika parkir yang tidak dapat menjadi cerminan bagi setiap pengendara lainnya. Masih banyak beberapa oknum yang hanya meletakkan kendaraannya sembarangan. Asal rapih, walaupun ditempat yang dilarang sekalipun, mereka menganggap itu sebagai suatu yang wajar. Di Indonesia, ada beberapa larangan tentang parkir yang disampaikan pemerintah melalui beberapa plang – plang jalan, contohnya huruf “S” yang dicoret, atau huruf “P” yang dicoret. Simbol – simbol ini dapat ditemukan dibeberapa sudut jalan yang ada khususnya di Indonesia. Simbol ini bertujuan untuk menata bagian – bagian jalan sedemikian rupa agar dapat menghindari kemacetan. Namun buktinya masih banyak oknum – oknum nakal yang melakukan hal negatif ini, baik dari sang pengendara, maupun si tukang parkir yang sembarangan mencari tempat yang cukup luas untuk dijadikannya ladang dirinya mengais rezeki, tempat ini biasa disebut dengan “parkir liar”.

Budaya Kemacetan



Kemacetan adalah polemik yang menjadi sesuatu yang sudah membudaya khususnya pada daerah sekitar DKI Jakarta. Saya sebagai individu yang tinggal di daerah Jakarta Selatan, tidak dapat menghindar dari yang namanya kemacetan. Hal ini sudah menjadi hal yang seakan – akan membudaya di masyarakat sekitar saya. Dengan segala aktivitas keseharian yang terus menerus, seperti berangkat ke sekolah maupun ke kantor, kebanyakan orang dengan aktivitas kesehariannya yang mewajibkan mereka untuk sampai ke sekolah ataupun kantor pada pagi hari, membuat jalan raya besar terlihat seperti unsur dari barisan kendaraan bermotor 2 maupun 4. Hal ini dapat kita jumpai di banyak titik khususnya pada pagi hari (jam berangkat kantor/sekolah) dan sore hari (jam pulang kantor/sekolah). Banyaknya pelaku aktivitas tersebut membuat beberapa titik jalan raya menjadi sangatlah padat di setiap sudutnya. Tak jarang, bahkan memicu konflik keributan karena mereka terlalu berdesakkan.

Budaya Malam


Budaya malam adalah beberapa aktivitas yang biasa dilakukan pada malam hari. Biasanya, aktivitas yang dilakukan mengarah kepada sisi bahagia seseorang, atau bisa disebut sebaga perlakuan menyenangkan yang dilakukan setiap individu pada malam hari. Budaya ini biasa dijumpai biasanya diatas jam 10 malam hari. Individu pelaku rutinitas ini biasa datang dari kalangan pekerja atau bahkan hingga pelajar atau mahasiswa yang biasanya mereka melakukan kegiatan ini saat ada hari libur (waktu senggang). Budaya malam bukanlah kegiatan yang sepenuhnya negatif, itu hanyalah beberapa opini dari masyarakat awam yang tidak paham betul apa yang dilakukan pelaku aktivitas malam. Sebagai contoh seorang suami yang memiliki tugas yang memaksa beliau untuk lembur di kantor. Dengan tambahan beberapa jam, beliau baru diizinkan untuk pulang, namun ditengah perjalanan, ada beberapa hal yang membuatnya lelah, ingin segera beristirahat, namun tidak dengan tidur, namun dengan memaparkan beberapa kebahagiaan saat itu juga. Bukannya menuju kerumah, tempat hiburan malam lah yang ia kunjungi, dengan beberapa pentas musik yang dimainkan oleh DJ (Disk Jockey), beliau merasakan hentakan musik tersebut, lalu menggoyangkan badannya, berteriak sekencang – kencangnya, melupakan semua unsur pekerjaan yang kian membuatnya merasa tidak baik pada saat itu. Setelah ia merasa cukup, ia baru pulang menuju arah rumah, namun sekarang dengan perasaan yang lebih baik, sehingga tidak membawa masalah kerumah.